Masih tingginya prevalensi merokok di Indonesia menunjukkan bahwa berhenti merokok secara instan bukanlah hal yang mudah bagi banyak orang. Di tengah tantangan tersebut, berbagai pendekatan mulai dipertimbangkan, termasuk beralih ke produk tembakau alternatif yang, berdasarkan sejumlah penelitian ilmiah, memiliki risiko kesehatan lebih rendah dibandingkan rokok. Pendekatan ini dikenal sebagai tobacco harm reduction atau pengurangan bahaya tembakau, yang lebih menekankan pada pengurangan risiko sebagai solusi bagi para perokok yang kesulitan untuk berhenti merokok sepenuhnya.
Sejumlah perokok dewasa telah membuktikan bahwa peralihan ke produk tembakau alternatif seperti rokok elektronik (vape), produk tembakau yang dipanaskan, dan kantong nikotin bukan sekadar mengikuti tren. Langkah ini menjadi bagian dari upaya bertahap untuk mengurangi kebiasaan merokok, dengan pertimbangan kesehatan dan kualitas hidup yang lebih baik.
Salah satu contohnya adalah Aldi, seorang influencer yang dikenal melalui akun @vapeducation di Instagram. Ia mengaku telah beralih dari rokok ke vape sekitar tahun 2016 hingga 2017. Ketertarikannya berawal dari pengalaman teman-teman yang telah beralih lebih dahulu, diiringi kesadaran untuk mengumpulkan informasi yang valid. Keputusan yang diambil untuk benar-benar beralih tidak dilakukan secara sembarangan.
Aldi memilih melakukan riset terlebih dahulu, menelusuri berbagai sumber dan jurnal ilmiah hingga menemukan publikasi dari Public Health England. Lembaga yang kini dikenal sebagai UK Health Security Agency itu, melalui kajian berjudul “Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products,” menunjukkan bahwa rokok elektronik dan produk tembakau yang dipanaskan dapat menurunkan paparan zat berbahaya secara signifikan sekitar 90 hingga 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok. Temuan ini menjadi salah satu rujukan penting dalam diskursus tobacco harm reduction, sekaligus membuka peluang bagi perokok dewasa untuk beralih ke alternatif yang lebih rendah risiko.
“Saya riset dulu dan akhirnya saya menemukan beberapa informasi. Di tahun 2015 sudah ada jurnal dari Public Health England yang menyebutkan bahwa vape 95 persen lebih tidak berbahaya dibanding rokok. Dari situ saya memutuskan untuk mencoba membeli, setelah yakin dari hasil riset,” ujar Aldi, Kamis (7/5/2026).
Saat ini, Aldi sudah sepenuhnya menggunakan vape dan berhasil meninggalkan rokok. Ia pun mulai merasakan perubahan pada kondisi kesehatannya. “Dari sisi pernapasan, terasa lebih panjang dan lega. Selera makan juga meningkat. Sekitar satu sampai dua bulan kemudian, saya akhirnya berhenti total merokok,” ungkapnya.
Pengalaman inilah yang kemudian mendorong Aldi untuk membangun platform edukasi, dengan komitmen menyajikan informasi berbasis riset dan berimbang tentang vape. Baginya, peralihan ke produk tembakau alternatif bukan sekadar tren, melainkan proses yang perlu didasari pemahaman yang tepat, transparansi terhadap risiko, serta akses pada informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Kita berhak mendapatkan informasi yang benar. Banyak orang lebih suka konsumsi konten singkat tanpa verifikasi. Saya merasa punya tanggung jawab untuk meluruskan. Kalau ada sisi negatif vape, tetap saya sampaikan. Saya tidak pernah bilang vape sepenuhnya aman, tapi lebih tidak berbahaya 95 persen dibanding rokok berdasarkan info dari Public Health England,” kata Aldi.
Sementara itu, kisah lainnya datang dari Hanif (31), seorang karyawan swasta di Jakarta Selatan. Ia yang biasanya selalu memulai hari dengan sebatang rokok, kini sudah beberapa bulan terakhir memilih menggunakan rokok elektronik. Peralihan tersebut merupakan bagian dari upayanya menurunkan risiko kesehatan akibat kebiasaan merokok. Keputusan ini tidak datang secara instan, melainkan melalui proses panjang yang dipicu oleh kekhawatiran terhadap kesehatannya, sekaligus dorongan dari keluarga yang menginginkannya menjalani hidup lebih sehat.
Pada awalnya, Hanif tidak langsung merasa cocok dengan vape. Ia sempat meragukan efektivitas rokok elektronik untuk membantu menggantikan kebiasaan merokok. Namun, lambat laun, ia mulai menemukan pola yang sesuai dengan cara memilih perangkat dan mengatur frekuensi penggunaan.
“Dulu agak sulit menyesuaikan, karena karakter rokok sama vape kan beda, jadi masih terasa ada yang kurang. Tapi lama-lama, saya lebih nyaman pakai vape sih, karena tidak bau seperti rokok,” ujar Hanif.
Di balik proses adaptasi tersebut, dukungan keluarga menjadi faktor penting yang menguatkan langkah Hanif untuk terus menggunakan vape. Istrinya, misalnya, kerap mengingatkan alasan awal ia memutuskan beralih, yakni demi kesehatan jangka panjang dan kualitas hidup yang lebih baik. Lingkungan rumah yang kini bebas dari asap rokok juga membuat Hanif merasa lebih nyaman.
“Keluarga seneng banget, karena sekarang rumah jadi tidak bau asap rokok. Itu juga yang bikin saya makin yakin untuk lanjut pakai vape,” tutupnya.
Melalui pengalaman para perokok dewasa yang telah beralih ke produk tembakau alternatif, terlihat bahwa pendekatan tobacco harm reduction dapat menjadi salah satu opsi bagi mereka yang kesulitan berhenti merokok sepenuhnya. Pendekatan ini membuka ruang bagi upaya pengurangan risiko secara bertahap, sekaligus menjadi bagian dari solusi dalam menekan tingginya prevalensi merokok di Indonesia.
Artikel Terkait
KSSK Pastikan Stabilitas Sistem Keuangan Indonesia Terjaga di Tengah Ketegangan Geopolitik Global
Pemerintah Perpanjang Masa Transisi Aturan 30 Persen Belanja Pegawai Daerah Lewat UU APBN
BPOM Tarik 11 Produk Kosmetik Berbahaya, Mengandung Merkuri hingga Senyawa Karsinogenik
Kesaksian Ahli di Sidang Tipikor: Klaim Kerugian Negara Rp2 Triliun dalam Pengadaan Chromebook Runtuh