Pasar saham Asia tampak gamang di hari Rabu ini. Setelah awal tahun yang begitu bersemangat, reli kuat yang mendorong banyak indeks ke level tertinggi baru sepertinya butuh jeda. Padahal, sentimen positif itu masih ada, meski ketegangan geopolitik global tetap jadi bayang-bayang yang mengintai.
Pergerakannya pun beragam. Indeks MSCI untuk kawasan Asia Pasifik (kecuali Jepang) bolak-balik antara zona merah dan hijau, seolah bingung menentukan arah. Di Tokyo, Nikkei 225 justru terpuruk 0,94 persen. Hang Seng Hong Kong ikut tertekan, minus 1,26 persen.
Tapi nggak semua suram. Shanghai Composite malah melesat luar biasa, naik lebih dari 10 persen. KOSPI Korea dan ASX 200 Australia juga menguat, masing-masing 0,76 persen dan 0,77 persen. Sementara STI Singapura nyaris datar, cuma naik tipis 0,05 persen.
Charu Chanana, Kepala Strategi Investasi Saxo, punya pandangan tentang kondisi ini. Menurutnya, ini cuma fase jeda belaka.
"Sepertinya pasar Asia hanya sedang mengambil napas setelah awal 2026 yang sangat kuat," ujarnya, seperti dikutip Reuters.
Lalu apa yang bikin investor Jepang ciut nyalinya? Chanana menyoroti isu geopolitik yang lagi panas.
"Berita geopolitik sedang memegang kendali. Larangan ekspor barang dual-use China ke Jepang, serta pembicaraan soal potensi risiko rare earth, membuat investor mengurangi eksposur terhadap aset Jepang," imbuhnya.
Artikel Terkait
Durian Beku Indonesia Resmi Pecah Pasar China
IHSG Melaju ke 9.000, Saham RLCO Melonjak 25%
Harga Emas Antam Melonjak Rp 7.000, Konsumen Bebas PPh 22
IHSG Melonjak 54 Poin, Rupiah Justru Tergerus di Awal Perdagangan