Pasar Asia Ambil Jeda, Ketegangan China-Jepang Bikin Investor Jepang Ciut

- Kamis, 08 Januari 2026 | 10:15 WIB
Pasar Asia Ambil Jeda, Ketegangan China-Jepang Bikin Investor Jepang Ciut

Pasar saham Asia tampak gamang di hari Rabu ini. Setelah awal tahun yang begitu bersemangat, reli kuat yang mendorong banyak indeks ke level tertinggi baru sepertinya butuh jeda. Padahal, sentimen positif itu masih ada, meski ketegangan geopolitik global tetap jadi bayang-bayang yang mengintai.

Pergerakannya pun beragam. Indeks MSCI untuk kawasan Asia Pasifik (kecuali Jepang) bolak-balik antara zona merah dan hijau, seolah bingung menentukan arah. Di Tokyo, Nikkei 225 justru terpuruk 0,94 persen. Hang Seng Hong Kong ikut tertekan, minus 1,26 persen.

Tapi nggak semua suram. Shanghai Composite malah melesat luar biasa, naik lebih dari 10 persen. KOSPI Korea dan ASX 200 Australia juga menguat, masing-masing 0,76 persen dan 0,77 persen. Sementara STI Singapura nyaris datar, cuma naik tipis 0,05 persen.

Charu Chanana, Kepala Strategi Investasi Saxo, punya pandangan tentang kondisi ini. Menurutnya, ini cuma fase jeda belaka.

"Sepertinya pasar Asia hanya sedang mengambil napas setelah awal 2026 yang sangat kuat," ujarnya, seperti dikutip Reuters.

Lalu apa yang bikin investor Jepang ciut nyalinya? Chanana menyoroti isu geopolitik yang lagi panas.

"Berita geopolitik sedang memegang kendali. Larangan ekspor barang dual-use China ke Jepang, serta pembicaraan soal potensi risiko rare earth, membuat investor mengurangi eksposur terhadap aset Jepang," imbuhnya.

Isu itu memang lagi seru-serunya. Rabu ini, pemerintah Jepang secara resmi menyebut langkah China melarang ekspor barang dual-use (yang bisa untuk kepentingan militer) sebagai sesuatu yang 'sama sekali tidak dapat diterima'. Ketegangan antara dua raksasa ekonomi Asia ini makin memanas, apalagi dengan ancaman pembatasan ekspor rare earth yang vital bagi industri.

Selain mengawasi ketegangan China-Jepang, mata investor juga tertuju ke data dari seberang lautan. Laporan ketenagakerjaan AS yang akan rilis Jumat nanti dinilai krusial. Data itu bisa jadi petunjuk berharga soal langkah Federal Reserve ke depan terkait suku bunga.

Goldman Sachs memproyeksikan angka yang optimis: penambahan nonfarm payrolls (NFP) Desember sekitar 70.000, lebih tinggi dari perkiraan pasar umum. Mereka juga memperkirakan tingkat pengangguran turun sedikit ke 4,5 persen.

Data terbaru yang sudah keluar semalam sendiri memberikan gambaran campur aduk. Pasar tenaga kerja AS seolah berada dalam fase stagnan, tidak banyak yang merekrut tapi juga tidak banyak yang memecat. Sebuah laporan dari Wells Fargo mencoba menganalisis kondisi ini.

"Laporan JOLTS November menunjukkan perputaran tenaga kerja masih lemah. Lingkungan dengan tingkat churn rendah ini menopang keseimbangan rapuh antara permintaan dan pasokan tenaga kerja," tulis para ekonom Wells Fargo.

Mereka menambahkan, dengan sikap perusahaan yang masih sangat berhati-hati, pertumbuhan lapangan kerja diprediksi akan tetap terbatas dalam waktu dekat.

Sementara itu, di pasar berjangka, sinyalnya juga tidak satu warna. Nasdaq futures melemah sedikit, sementara S&P 500 futures naik tipis. Kontrak berjangka Eropa malah terlihat lebih lemah. Semuanya seperti menunggu sesuatu, entah data dari AS atau perkembangan diplomasi di Asia.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar