Namun begitu, dia tidak lupa memberi peringatan. Khususnya untuk para spekulan yang mungkin tergiur main di saat valas bergerak cepat. Purbaya menegaskan, “Untuk yang spekulator-spekulator, jangan terlalu ambil posisi yang terlalu.”
Lalu bagaimana dengan nasib para importir? Menkeu menilai kenaikan biaya sekitar 2-3 persen masih bisa dikendalikan. “Anda importir ada kenaikan 2–3 persen, masih bisa dikendalikan enggak? Saya pikir sih masih bisa,” ujarnya mencoba meyakinkan.
Dampak ke APBN, terutama soal subsidi energi, juga disebutkan. Posisinya masih aman. Alasannya, kenaikan nilai tukar rupiah ternyata diimbangi oleh harga minyak dunia yang masih rendah bahkan di bawah asumsi APBN. “Jadi subsidinya ya gampangnya relatif terkendali selama ini,” katanya.
Di sisi lain, Purbaya mengingatkan bahwa otoritas kebijakan nilai tukar sepenuhnya ada di tangan Bank Indonesia. Meski koordinasi lewat KSSK terus diperkuat, dia tak bisa ikut campur. “Tanya saja ke Bank Sentral apa yang terjadi, karena saya enggak bisa intervensi untuk kebijakan nilai tukar, itu otoritas Bank Sentral,” pungkasnya.
Jadi, intinya pemerintah merasa situasi masih terkendali. Mereka mengawasi, tapi juga berharap pasar tidak panik. Semuanya bergerak, tapi fondasinya dianggap masih kuat.
Artikel Terkait
Pengacara Roy Suryo Kritik SP3 Kasus Fitnah Ijazah Jokowi: Dasar Hukum Dinilai Tak Jelas
Kendaraan Listrik: Momentum yang Harus Dijaga Agar APBN Tak Tercekik Subsidi
Musik yang Tepat Bisa Jadi Teman Lari Terbaik, Begini Rekomendasinya
Dari Dapur Keluarga ke Pasar Digital: Kisah NM Kitchen Bertahan dan Bangkit