Dalam konteks itulah, peresmian Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan kemarin punya arti strategis. Presiden menyebutnya sebagai satu langkah nyata menuju kemandirian energi. Suatu hal yang dia anggap sebagai syarat mutlak bagi kemerdekaan bangsa yang sebenarnya.
“Kita tidak boleh tergantung energi kita dari luar, tidak boleh,” tegasnya.
Di sisi lain, Prabowo secara terbuka mengakui persoalan yang menghinggapi tubuh Pertamina belakangan ini. Masalah tata kelola. Untuk itu, komitmennya bulat: membersihkan BUMN migas itu dari segala praktik korupsi dan manipulasi, termasuk impor yang merugikan.
Pesan untuk para pimpinan di lapangan pun disampaikan tanpa tedeng aling-aling.
“Siapa yang Anda nilai tidak bagus, pecat! Jangan ragu-ragu. Demi bangsa dan rakyat, harus tega. Tidak ada itu. Banyak anak muda yang hebat-hebat, cari,” ujar Presiden.
Acara di Balikpapan itu, pada akhirnya, lebih dari sekadar seremonial. Ia menjadi penanda arah kepemimpinan Prabowo di sektor energi: mengejar kedaulatan, demi kesejahteraan dan harga diri bangsa. Sebuah jalan panjang yang baru saja dimulai.
Artikel Terkait
ASEAN Desak AS dan Iran Segera Kembali ke Meja Perundingan
Sunderland Tundukkan Tottenham 1-0 Berkat Gol Tunggal Mukiele
BI Perkuat Intervensi di Pasar Valas untuk Jaga Stabilitas Rupiah
Aset Bank Syariah Nasional Tembus Rp76 Triliun di Kuartal Pertama 2026