Dalam konteks itulah, peresmian Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan kemarin punya arti strategis. Presiden menyebutnya sebagai satu langkah nyata menuju kemandirian energi. Suatu hal yang dia anggap sebagai syarat mutlak bagi kemerdekaan bangsa yang sebenarnya.
“Kita tidak boleh tergantung energi kita dari luar, tidak boleh,” tegasnya.
Di sisi lain, Prabowo secara terbuka mengakui persoalan yang menghinggapi tubuh Pertamina belakangan ini. Masalah tata kelola. Untuk itu, komitmennya bulat: membersihkan BUMN migas itu dari segala praktik korupsi dan manipulasi, termasuk impor yang merugikan.
Pesan untuk para pimpinan di lapangan pun disampaikan tanpa tedeng aling-aling.
“Siapa yang Anda nilai tidak bagus, pecat! Jangan ragu-ragu. Demi bangsa dan rakyat, harus tega. Tidak ada itu. Banyak anak muda yang hebat-hebat, cari,” ujar Presiden.
Acara di Balikpapan itu, pada akhirnya, lebih dari sekadar seremonial. Ia menjadi penanda arah kepemimpinan Prabowo di sektor energi: mengejar kedaulatan, demi kesejahteraan dan harga diri bangsa. Sebuah jalan panjang yang baru saja dimulai.
Artikel Terkait
Lonjakan Penjualan Akhir Tahun, Alarm Palsu bagi Industri Otomotif?
Hujan Guyur Jakarta, Waspada Genangan di Beberapa Titik
Xabi Alonso Dipecat, Arbeloa Ditunjuk sebagai Pengganti di Real Madrid
Target 17,6 Juta Turis Mancanegara, Pemerintah Genjot Infrastruktur dan Visa