Dalam konteks itulah, peresmian Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan kemarin punya arti strategis. Presiden menyebutnya sebagai satu langkah nyata menuju kemandirian energi. Suatu hal yang dia anggap sebagai syarat mutlak bagi kemerdekaan bangsa yang sebenarnya.
“Kita tidak boleh tergantung energi kita dari luar, tidak boleh,” tegasnya.
Di sisi lain, Prabowo secara terbuka mengakui persoalan yang menghinggapi tubuh Pertamina belakangan ini. Masalah tata kelola. Untuk itu, komitmennya bulat: membersihkan BUMN migas itu dari segala praktik korupsi dan manipulasi, termasuk impor yang merugikan.
Pesan untuk para pimpinan di lapangan pun disampaikan tanpa tedeng aling-aling.
“Siapa yang Anda nilai tidak bagus, pecat! Jangan ragu-ragu. Demi bangsa dan rakyat, harus tega. Tidak ada itu. Banyak anak muda yang hebat-hebat, cari,” ujar Presiden.
Acara di Balikpapan itu, pada akhirnya, lebih dari sekadar seremonial. Ia menjadi penanda arah kepemimpinan Prabowo di sektor energi: mengejar kedaulatan, demi kesejahteraan dan harga diri bangsa. Sebuah jalan panjang yang baru saja dimulai.
Artikel Terkait
Lapangan Padel di Pulomas Disegel Permanen Lantaran Tak Miliki Izin SLF
Pelatih Panjat Tebing Diduga Lakukan Pelecehan Seksual dan Kekerasan Fisik terhadap Delapan Atlet
Harga Perak Antam Tembus Rp55.100 per Gram, Lanjutkan Tren Kenaikan
Baku Tembak di Perairan Kuba Tewaskan Empat Orang, Havana Tuduh Infiltrasi Teroris dari AS