Ia bekerja pelan, menumpuk, dan sering baru terasa saat kerusakan sudah meluas. Mulai dari penurunan kualitas air, gangguan reproduksi ikan, sampai perubahan total komunitas organisme di dalamnya.
Mengapa Harus Dibicarakan Sekarang?
Danau Batur bukan cuma pemandangan. Ia adalah sistem hidup yang menjaga keseimbangan air, pangan, dan budaya. Jika zat pencemar terus menumpun, danau ini bisa berubah dari sumber kehidupan menjadi sumber risiko.
Membicarakannya dari sudut pandang ekotoksikologi berarti mengajak kita semua melihat ancaman yang tak selalu terlihat atau berbau. Ini pengingat: menjaga danau tak cukup hanya dengan memungut sampah di permukaan. Tapi juga mengendalikan apa yang kita buang ke dalamnya.
Sayangnya, perhatian selama ini masih terlalu fokus pada aspek visual. Kebersihan permukaan dan penataan kawasan. Sementara hal-hal seperti pengendalian beban pencemar, evaluasi daya dukung keramba, dan pemantauan senyawa beracun jarang dikomunikasikan ke publik. Padahal, tanpa data rutin soal amonia, nutrien, atau potensi logam berat, ancaman ini sulit dideteksi sejak dini.
Pengelolaannya perlu bergeser dari reaktif jadi preventif. Pemerintah daerah, pengelola, dan akademisi bisa berkolaborasi melakukan audit daya dukung, pemantauan rutin kualitas air dan sedimen, serta uji kandungan pencemar pada ikan. Menata ulang keramba, memakai pakan ramah lingkungan, dan mengendalikan limpasan pertanian juga langkah krusial.
Yang tak kalah penting: publikasi data kualitas air secara terbuka. Ini bisa mendorong partisipasi masyarakat dan membangun kepercayaan bahwa Danau Batur dikelola bukan cuma sebagai objek wisata, tapi sebagai sistem kehidupan yang harus dijaga kesehatannya.
Menjaga Danau, Menjaga Masa Depan
Jadi, apa yang harus dilakukan? Pengelolaan berbasis sains, pemantauan berkala, pembatasan daya dukung keramba, dan edukasi bagi masyarakat serta wisatawan adalah kuncinya. Jika Danau Batur rusak, yang hilang bukan cuma panorama indah. Tapi sumber penghidupan dan kesehatan untuk generasi mendatang. Dan sekali racun terakumulasi, pemulihannya bukan hitungan bulan atau tahun. Bisa puluhan tahun.
Danau Batur masih terlihat indah. Tapi pertanyaannya, kita mau mewariskan apa? Danau yang hidup, atau danau yang diam-diam menyimpan racun?
Artikel Terkait
Prabowo Resmikan 166 Sekolah Rakyat, Sambutan Hangat Warga Banjarbaru
Pohon Tumbang Lumpuhkan Layanan KRL Jalur Tanjung Priok
Noah Wyle Persembahkan Golden Globe untuk Istri di Ulang Tahunnya
Jalan Vital Aceh Kembali Terbuka, Logistik Mulai Bergerak