Aurelie Moeremans Bongkar Luka Grooming di Masa Remaja Lewat Broken Strings

- Minggu, 11 Januari 2026 | 17:06 WIB
Aurelie Moeremans Bongkar Luka Grooming di Masa Remaja Lewat Broken Strings

Aurelie Moeremans punya alasan kuat di balik keputusannya menerbitkan buku Broken Strings. Lewat buku itu, ia membongkar pengalaman pahitnya sebagai korban grooming saat masih remaja, tepatnya di usia 15 tahun. Ternyata, dukungan dari sang suami, Tyler Bigenho, punya peran besar.

"Tyler meyakinkan bahwa ceritaku bisa menyelamatkan dan menyadarkan banyak orang. Itu yang akhirnya membuatku berani," kata Aurelie, Minggu (11/1).

Sebenarnya, menulis sudah lama jadi hobinya. Banyak sekali cerita yang sudah ia tulis, tapi hanya disimpan, tak pernah sampai dirilis. Awalnya, Broken Strings pun ditulis dengan niat yang sangat personal. Bagi perempuan 32 tahun itu, proses menulisnya murni untuk dirinya sendiri.

"Seperti diary untuk healing. Sama sekali tidak terpikir untuk diterbitkan," tuturnya.

Namun begitu, semua berubah setelah Tyler membaca tulisannya. Tanggapan sang suami lah yang kemudian mendorongnya untuk membagikan kisah itu ke publik. Pemain film Story of Kale ini akhirnya memutuskan untuk merilisnya.

"Tapi setelah dibaca suamiku, Tyler, dia bilang ini jangan disimpan sendiri, ini harus dibagikan karena bisa membantu banyak 'Aurelie kecil' di luar sana," ucap Aurelie.

Makna di Balik Judul dan Proses Kreatif yang Emosional

Lalu, kenapa judul Broken Strings? Aurelie punya penjelasan yang cukup dalam. Baginya, judul itu adalah metafora yang kuat.

"Broken Strings berarti tali-tali boneka yang akhirnya putus, simbol aku yang lepas dari kontrol dan manipulasi abuserku," ungkapnya.

Proses penulisannya sendiri berlangsung sangat cepat. Bahkan bisa dibilang, ia tenggelam dalam gelombang emosi saat menuangkan ceritanya ke dalam tulisan. "Sangat cepat dan sangat emosional. Aku menulisnya di trimester pertama kehamilanku, lalu di trimester kedua versi bahasa Inggris sudah dirilis," kenang Aurelie.

Respons yang luar biasa dari pembacanya kemudian mendorong langkah selanjutnya. Banyak yang meminta versi bahasa Indonesia. Aurelie pun tak menunggu lama. Hanya dalam hitungan hari, ia menyelesaikan terjemahannya.

"Karena responsnya luar biasa dan banyak permintaan versi Indonesia, aku menerjemahkannya hanya dalam 3-4 hari," ucapnya.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar