SURABAYA Tiga poin berhasil direngkuh, tapi rasa puas? Rasanya belum lengkap. Rabu malam (26/2) di Stadion Gelora Bung Tomo, Persebaya Surabaya memang menang 1-0 atas PSM Makassar. Namun, statistik pertandingan menyisakan tanda tanya besar: dari 20 percobaan tembakan, cuma tiga yang mengarah ke gawang. Akurasinya benar-benar jeblok.
Pelatih Persebaya, Tavares, langsung angkat bicara. Ia mengakui bahwa penyelesaian akhir masih jadi masalah serius.
“Saya bersyukur pemain masih mampu menghasilkan banyak peluang,” ujarnya usai laga. “Tapi penyelesaian akhir harus segera dibenahi.”
Ya, itulah dua sisi yang bertolak belakang. Serangan mereka terlihat hidup dan kreatif, penuh intensitas. Sayangnya, semuanya seringkali buyar di momen-momen krusial. Pada pertandingan sebelumnya, tendangan lambung begitu mudah dilepaskan, seolah jadi pelarian saat situasi sesak. Kali ini, pendekatannya sudah sedikit berubah. Mereka lebih sabar mengolah bola, mencari celah lewat kombinasi pendek yang terukur.
Menurut Tavares, perbaikan itu tak datang begitu saja. Ia sudah menggelar pertemuan empat mata dengan beberapa pemainnya. Topiknya spesifik: soal pengambilan keputusan di area final third. Kapan harus menembak, kapan mengumpan, atau bahkan menahan bola sejenak. Hal-hal remeh yang justru sering jadi penentu.
Faktor lapangan juga ikut diperhitungkan. Kontrol bola dan pengaturan tempo permainan dinilainya lebih stabil malam itu. Persebaya berusaha memaksimalkan permainan bawah, meski tetap menyisipkan variasi seperti umpan panjang ke area kosong. “Kami harus punya alternatif,” tegasnya. Di sisi lain, badai cedera masih belum berlalu. Situasi ini justru membuka peluang bagi pemain-pemain muda untuk tampil. Bagi Tavares, kesempatan main bukan soal usia, melainkan sikap dan performa di lapangan.
“Siapa pun yang menunjukkan perilaku terbaik akan bermain,” katanya lugas.
Di tengah sorotan pada ketajaman yang tumpul, satu nama bersinar: Gali Freitas. Pemain asal Timor Leste itu menjadi pahlawan dengan gol tunggal penentu kemenangan. Terpilih sebagai Man of the Match, Gali mengaku masih banyak peluang yang terbuang percuma.
“Masih harus ditingkatkan lagi,” akunya. “Saya berjanji akan berlatih lebih keras dan komunikasi dengan pelatih serta kawan-kawan juga akan diperkuat.”
Kemenangan tipis ini jadi modal berharga sebelum laga besar berikutnya: menjamu Persib Bandung. Ini bukan cuma soal tiga poin biasa. Kemenangan akan membuka pintu lebar-lebar menuju papan atas klasemen. Tekanan sudah terasa di udara.
Menariknya, ambisi Persebaya ternyata disambut harapan dari pihak lain. Kabarnya, Persija Jakarta juga berharap Bajul Ijo bisa menghentikan laju Persib. Rivalitas di puncak klasemen memang selalu begitu rumit; kemenangan satu tim bisa langsung jadi batu sandungan bagi rivalnya. Sepak bola tak pernah hanya tentang 22 pemain di lapangan hijau. Selalu ada drama dan kepentingan yang berkelindan di luarnya.
Kini, Persebaya berdiri di persimpangan. Di satu sisi, produktivitas menciptakan peluang tak diragukan. Di sisi lain, ketajaman masih jadi teka-teki. Mereka juga harus berdamai dengan ruang ganti yang dipenuhi pemain cedera, sambil memupuk talenta muda. Malam itu di Surabaya, satu gol memang sudah cukup. Tapi untuk melangkah lebih jauh, semua orang tahu: yang dibutuhkan bukan sekadar peluang, melainkan ketepatan di saat-saat paling menentukan.
Artikel Terkait
Acosta Akui Aprilia dan Ducati Ancaman Serius, Tapi KTM Tak Menyerah
AC Milan Siapkan Rencana Perombakan Lini Depan, Dybala Jadi Target Utama
Era Emas Berakhir: Lima Juara Dunia Bulu Tangkis Pensiun di Puncak Karier
Arbeloa Yakin Real Madrid Bisa Balikkan Keadaan di Kandang Bayern