Di Eropa, reaksinya keras. Para pejabat dan aktivis teknologi mengecam kebijakan Musk itu. Mereka beranggapan membatasi fitur berbahaya hanya untuk pengguna premium sama sekali tidak menyelesaikan akar masalah.
Suara kritik paling vokal datang dari Inggris.
“Hal itu sama saja dengan mengubah fitur AI yang memungkinkan pembuatan gambar ilegal menjadi layanan premium. Ini menghina para korban misogini dan kekerasan seksual," demikian pernyataan resmi dari Downing Street, kantor Perdana Menteri Keir Starmer.
Jadi, sementara Musk mencoba mengatur ulang fitur platformnya, Indonesia memilih jalan yang lebih langsung: memutus aksesnya sama sekali. Langkah ini menempatkan Indonesia di garis depan dalam perdebatan global yang pelik tentang etika AI, keamanan digital, dan batas-batas kebebasan berekspresi.
Artikel Terkait
FCC Beri Izin, Armada Satelit Starlink Elon Musk Bakal Tembus 15.000 Unit
Nobar Berujung Ricuh: Petasan Picu Bentrok Suporter di Depok
Korban Jiwa Membengkak, Iran Hadapi Gelombang Kerusuhan Terbesar
Ketegangan Iran-AS Memanas, Ketua Parlemen Ancam Serang Israel dan Pangkalan Amerika