Trade Expo Indonesia (TEI) tahun depan punya target yang ambisius. Digelar di ICE BSD pada 14-18 Oktober 2026, ajang ini mengusung tagline baru: "The Ultimate Hub for Global Sourcing". Intinya, pemerintah lewat Kementerian Perdagangan ingin Indonesia tak sekadar jadi peserta, melainkan simpul utama perdagangan dunia.
Fajarini Puntodewi, Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, terlihat percaya diri. Dalam konferensi pers di kantornya, Kamis lalu, ia menjelaskan keyakinan itu.
"Kami sudah yakin dan percaya diri bahwa Indonesia ini bisa menjadi simpul penting perdagangan dan sudah bisa mensuplai dunia dengan produk-produk yang berkualitas," ungkapnya.
Menurut Fajarini, tagline itu bukan sekadar jargon untuk acara tahunan. Ia berencana memakainya lebih lama, sebagai bagian dari promosi produk Indonesia ke pasar global. Dari barang manufaktur, hasil agrikultur, sampai produk teknologi semuanya dianggap punya daya saing tinggi dan berkelanjutan.
"Kita berharap tagline ini akan lebih lama kita pakai karena saya rasa ini sangat menyentuh dan tepat menggambarkan kesiapan Indonesia," lanjutnya.
Ia menekankan, tema itu menggambarkan kesiapan riil Indonesia untuk memperluas perannya di kancah internasional.
Namun begitu, ambisi besar butuh eksekusi matang. Menteri Perdagangan Budi Santoso membeberkan, TEI 2026 akan dijalankan dalam tiga tahap ketat. Tahap pertama fokus pada pendaftaran dan business matching. Jadi, calon eksibitor langsung dipertemukan dengan jaringan Atase Perdagangan dan ITPC di 33 negara.
"Dari awal langsung dicarikan buyer-nya. Sehingga, tidak semata-mata datang ke playground kemudian baru ketemu dengan para eksibitor, tapi harus dipersiapkan lebih awal," kata Budi.
Tahap kedua adalah puncak acara pada Oktober nanti. Di sinilah transaksi konkret diharapkan terjadi, dengan kehadiran langsung buyer mancanegara.
Lalu, yang tak kalah penting: tahap ketiga, yaitu pemantauan pasca-acara. Pemerintah berjanji akan memonitor setiap kesepakatan agar tak mandek karena kendala teknis.
"Kita monitor perwakilan kita dan juga kita semua memonitor bagaimana transaksi dagang yang sudah dilakukan itu berjalan dengan baik. Jangan sampai misalnya ada kendala teknis sehingga menjadi terhambat," tegasnya.
Rencananya jelas. Persiapan detail. Sekarang, tinggal menunggu eksekusinya di lapangan. Apakah Indonesia benar-benar bisa menjadi "hub" yang diimpikan? Waktu yang akan menjawab.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Akhiri Kunjungan Kenegaraan di Paris, Pulang ke Indonesia
Fajar/Fikri Kalahkan Ganda Malaysia, Tantangan Berat dari China Menanti di Semifinal Singapore Open 2026
KPK Segera Limpahkan Berkas Dakwaan Bupati Pati Nonaktif Sudewo ke PN Semarang
IESR Desak Pemerintah Hapus Kuota PLTS Atap Demi Percepat Target 100 GW