Notifikasi datang silih berganti, dan rasanya kita hampir tak pernah benar-benar sendiri. Ponsel selalu ada di genggaman, media sosial cuma satu ketuk jari. Dunia terasa begitu terhubung, cepat, dan tanpa batas. Tapi anehnya, justru di tengah kemudahan itu, banyak orang malah merasa kesepian. Sungguh ironis.
Ini bukan cuma perasaan sesaat lho. Coba tanya pada diri sendiri: berapa banyak teman di dunia maya yang kita punya? Ratusan mungkin. Tapi saat sedang tidak baik-baik saja, adakah satu nama yang bisa kita hubungi untuk bicara jujur? Seringkali, kita lebih nyaman berbagi momen bahagia, pencapaian, atau hal-hal yang terlihat menyenangkan. Sedangkan untuk rasa cemas, kegagalan, atau kelelahan batin, ruangnya terasa sempit sekali.
Media sosial, tanpa disadari, membentuk kebiasaan buruk. Kita jadi terdorong untuk menampilkan versi terbaik dari diri. Foto dipilih yang paling oke, cerita dibagikan yang paling menarik. Akibatnya, tanpa sengaja kita membandingkan keseharian kita yang biasa saja dengan potongan-potongan terbaik hidup orang lain. Perbandingan yang nggak adil ini bikin kita merasa tertinggal, atau merasa diri kurang.
Sebenarnya, masalahnya bukan pada teknologinya. Platform digital itu cuma alat. Bisa jadi jembatan untuk mempererat hubungan, tapi bisa juga jadi tembok yang bikin interaksi jadi dangkal. Kita bisa ngobrol dengan banyak orang, tapi belum tentu merasa didengar.
Percakapan kita sekarang didominasi emoji, balasan singkat, atau respons satu kata. Memang efisien sih, tapi sering kehilangan kedalaman. Kapan terakhir kali kita duduk lama, benar-benar mendengarkan cerita seseorang tanpa terganggu notifikasi? Bahkan saat ketemu langsung, tak jarang mata kita masih tertuju ke layar.
Pelahan-lahan, makna "kehadiran" pun berubah. Secara fisik kita ada, tapi perhatian kita terpecah. Hubungan jadi rapuh karena dibangun di atas interaksi yang serba instan, bukan pemahaman yang butuh waktu untuk tumbuh.
Artikel Terkait
Bencana 2026: Alarm Terakhir untuk Pendidikan Ekologi
Di Balik Trauma Child Grooming: Ancaman Bunuh Diri dan Diamnya Orang Tua
Investasi TaniHub Berujung Dakwaan: Kerugian Negara Capai Ratusan Miliar
Dokumen Epstein Bocor, Tautan Indonesian CIA dan Transaksi Properti dengan Trump Mengarah ke Hary Tanoe