Namun begitu, situasi ini bukan akhir segalanya. Justru kesadaran bahwa kita kehilangan kedalaman inilah yang bisa jadi titik balik. Kita nggak perlu kabur dari dunia digital, tapi harus lebih bijak memakainya.
Langkah kecil bisa berdampak besar. Coba luangkan waktu untuk percakapan yang lebih tulus. Tanya kabar dengan sungguh-sungguh, dengarkan tanpa buru-buru kasih solusi, atau sekadar hadir penuh tanpa buka-buka aplikasi lain. Hal sederhana seperti ini seringkali lebih berharga daripada ratusan like di linimasa.
Di sisi lain, penting juga untuk jujur pada diri sendiri. Nggak apa-apa kok kalau hidup nggak selalu terlihat menarik. Nggak apa-apa kalau kita lagi lelah atau bingung. Berani tunjukkan sisi manusiawi justru membuka pintu bagi orang lain untuk melakukan hal serupa. Dari situlah, koneksi yang lebih nyata bisa mulai terbangun.
Kita mungkin nggak bisa melawan arus teknologi. Tapi kita bisa memilih cara menyikapinya. Kita bisa tetap terhubung secara digital tanpa mengorbankan sentuhan emosional. Bisa aktif di dunia maya tanpa meninggalkan kehadiran di dunia nyata.
Pada akhirnya, manusia tetaplah makhluk yang butuh rasa dipahami, bukan cuma diperhatikan. Di tengah dunia yang makin bising oleh bunyi ponsel, mungkin yang kita rindukan bukan sinyal yang lebih kuat, melainkan kehangatan sebuah hubungan yang sesungguhnya.
OPINION
Artikel Terkait
Rindu yang Tertinggal di Stasiun Bandung
Tembak-Menembak di Yahukimo, Sopir Pikap Nyaris Jadi Sasaran
AS dan Iran Siap Berunding di Istanbul di Tengah Ketegangan yang Meningkat
Bencana 2026: Alarm Terakhir untuk Pendidikan Ekologi