MOSKOW Sebuah rekaman video serangan rudal dirilis oleh Dmitry Medvedev. Bukan sembarang rekaman, tapi yang menunjukkan gempuran rudal Oreshnik ke wilayah barat Ukraina. Medvedev, yang tak hanya mantan presiden tapi juga Wakil Ketua Dewan Keamanan Nasional Rusia, punya pesan keras yang menyertainya. Menurutnya, serangan itu adalah peringatan. Khususnya untuk para pemimpin Eropa yang bersikeras hendak mengirim pasukan mereka ke Ukraina.
Bahasa yang digunakannya pun terang-terangan dan kasar. Dia menyebut para pemimpin itu "bodoh".
"Para penguasa Eropa yang bodoh itu menginginkan perang di Eropa. Sudah disampaikan ribuan kali, Rusia tidak akan menerima pasukan Eropa atau NATO di Ukraina,"
Ucapnya tegas. Dalam pernyataannya, Medvedev secara spesifik menyebut nama Presiden Prancis, Emmanuel Macron. Serangan yang terjadi pada Jumat lalu, yang ia sebut sebagai "ganjaran yang sesuai", diklaim telah memorak-porandakan Ukraina.
Di sisi lain, narasi tentang kehebatan rudal Oreshnik ini terus digaungkan. Kirill Dmitriev, Kepala Dana Investasi Langsung Rusia yang juga utusan khusus Putin, ikut angkat bicara. Lewat sebuah unggahan di media sosial X, dia menantang.
"Kaja tidak terlalu pintar atau berpengetahuan luas, tapi bahkan dia seharusnya tahu bahwa tidak ada pertahanan udara yang mampu melawan rudal hipersonik Oreshnik berkecepatan Mach 10,"
Kaja yang dimaksud adalah Kaja Kallas, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa. Menariknya, justru peringatan Kallas-lah yang beredar. Dia mendesak negara-negara anggota UE untuk memeriksa ulang persediaan sistem pertahanan udara mereka. Alasannya sederhana sekaligus mencemaskan: Oreshnik saat ini belum tertandingi.
Semua ini bermula dari sebuah serangan skala besar yang diakui oleh Kementerian Pertahanan Rusia. Mereka menyatakan telah menyerang fasilitas-fasilitas penting di Ukraina pada Jumat, menggunakan senjata presisi tinggi dari darat dan laut, termasuk Oreshnik, plus drone serang.
Lantas, apa pemicunya? Menurut pihak Rusia, serangan balasan ini dilakukan menyusul gempuran yang menargetkan kediaman Presiden Vladimir Putin di Wilayah Novgorod, akhir Desember lalu. Sebuah pembalasan yang disampaikan dengan bahasa rudal hipersonik.
Artikel Terkait
Gamis dan Abaya Dominasi Kiriman Barang Jamaah Haji, Fasilitas Bea Cukai Belanja Maksimal
Kemenhub Godok Aturan Integrasi Tarif dan Tiket Transportasi Multimoda
Dubes Iran Bantah Klaim Trump Soal Pembukaan Selat Hormuz
Ketua Ombudsman RI Ditahan Usai Ditahan Terkait Suap Rp1,5 Miliar dari Perusahaan Tambang