Derita Tak Kasat Mata: Ketika Gosip Perselingkuhan Menyelinap ke Dalam Pikiran

- Senin, 22 Desember 2025 | 19:00 WIB
Derita Tak Kasat Mata: Ketika Gosip Perselingkuhan Menyelinap ke Dalam Pikiran

Hidup di era digital memang serba cepat. Cukup dengan ponsel di genggaman, berita apa pun bisa melesat dalam hitungan detik. Fenomena ini terasa betul belakangan, di mana kasus-kasus perselingkuhan seolah jadi tontonan harian di linimasa media sosial.

Dunia hiburan kerap jadi sorotan. Kita masih ingat kehebohan soal Na Daehoon, content creator TikTok dan ayah tiga anak, yang namanya mendadak naik karena rumor perselingkuhan sang istri yang diumbar akun misterius. Baru saja reda, publik kembali dikejutkan oleh Inara Rusli. Yang menarik, ia yang sebelumnya dikenal sebagai korban, kini justru dituding sebagai orang ketiga dalam rumah tangga seorang pengusaha. Rasanya seperti lingkaran yang tak berujung.

Menurut survei Justdating di 2024, Indonesia ternyata menempati peringkat kedua di Asia untuk angka perselingkuhan tertinggi. Sekitar 40% responden mengaku pernah tidak setia pada pasangannya. Angka yang cukup untuk membuat siapa pun merenung.

Namun, di balik hiruk-pikuk itu, ada dampak yang lebih dalam dan sunyi. Kasus-kasus ini bukan cuma memicu gosip, tapi juga meninggalkan bekas psikologis yang serius, baik bagi korban langsung maupun bagi kita yang cuma menyimak dari jauh. Banyak orang mulai mempertanyakan, sebenarnya seaman apa sebuah hubungan? Bagaimana yang dulu dianggap ruang penuh kasih bisa retak begitu saja?

Perselingkuhan memang membangkitkan emosi negatif yang bisa mengacaukan kestabilan diri. Untuk itu, penting bagi kita memahami bentuk-bentuk pengaruhnya.

Hubungan Melemah: Komunikasi Tidak Lagi Terjalin secara Sehat

Komunikasi yang melemah bisa membuat hubungan berubah jadi pasif. Menurut Maulita dan kawan-kawan (2025), kondisi ini menurunkan keintiman dan kepercayaan. Ujung-ujungnya, peluang untuk berselingkuh jadi terbuka lebar.

Di sisi lain, media sosial punya andil besar. Paparan terus-menerus terhadap kasus ketidaksetiaan tanpa disadari membentuk anggapan bahwa perselingkuhan itu hal yang wajar. Akibatnya, standar kesetiaan dalam hubungan asmara pun terkikis. Hal ini sejalan dengan temuan Kulkarni dkk. (2019), di mana banyak individu menjadikan hubungan "sempurna" di media sosial sebagai patokan, lalu membanding-bandingkannya dengan hubungan nyata mereka sendiri. Hasilnya? Selalu merasa kurang.

Bayang-Bayang Perselingkuhan dalam Hubungan

Dampaknya tentu lebih berat bagi mereka yang menyaksikan langsung tanda-tanda perselingkuhan, entah lewat perubahan perilaku pasangan atau pengalaman pahit sehari-hari. Ambil contoh anak yang menjadi saksi perselingkuhan orang tuanya. Trauma itu bisa membentuk cara mereka memandang orang sekitar dan menjalin hubungan di masa depan.

Pramudito dkk. (2021) menyebut, korban perselingkuhan harus berjuang membangun kembali kepercayaan yang hancur. Bahkan, yang mengkhawatirkan, trauma ini bisa berbalik. Yumbula dkk. (2010) mencatat, korban berpotensi menjadi pelaku di kemudian hari.

Lalu, bagaimana dengan kita yang cuma melihat dari layar? Ternyata, derasnya pemberitaan kasus perselingkuhan juga membentuk pandangan baru. Banyak yang jadi cemas berlebihan terhadap hubungan mereka sendiri, meski sebenarnya baik-baik saja (Syah dkk., 2025). Perasaan ikut merasakan penderitaan korban jadi hal yang umum.

Ketakutan untuk menjalin komitmen serius seperti pernikahan pun muncul. Ada yang mulai curiga tanpa alasan jelas, atau bahkan menganggap ikatan pernikahan sudah tidak aman lagi. Penelitian Anantya & Abdullah (2024) memperkuat hal ini: sebagian individu memutuskan untuk tidak menikah karena merasa hubungan di zaman sekarang terlalu rentan dan penuh risiko.

Pendekatan dalam Menangani Trauma Perselingkuhan

Lantas, apa yang bisa dilakukan? Trauma mungkin tak bisa sepenuhnya hilang, tapi setidaknya bisa ditangani agar individu bisa kembali pulih. Korban biasanya mengalami gejala trauma yang, jika dibiarkan, berisiko berkembang jadi gangguan emosional jangka panjang (Ridwan dkk., 2021).

Konseling dengan psikolog atau terapis bisa jadi langkah awal yang baik. Ruang aman ini membantu korban mengekspresikan emosi negatif dan memahami pengalaman traumatisnya.

Selain bantuan profesional, dukungan sosial dari orang terdekat dan komunikasi yang sehat adalah faktor pendukung yang tak kalah penting. Keterbukaan dinilai bisa mempercepat proses pemulihan diri (Harahap & Lestari, 2018).

Dengan melihat berbagai dampak psikologis ini, kita jadi paham betapa rapuhnya kepercayaan ketika dihancurkan. Membangun komunikasi dan rasa aman dalam hubungan adalah pondasi yang tak boleh diabaikan. Pada akhirnya, menjaga kesehatan mental bukanlah sebuah kemewahan, melainkan bentuk cinta yang paling mendasar kepada diri sendiri.

Komentar