MURIANETWORK.COM - Sebuah armada kemanusiaan internasional, Global Sumud Flotilla, bersiap untuk kembali berlayar menuju Jalur Gaza pada 29 Maret mendatang. Armada yang mengangkut bantuan penting serta ratusan relawan ini akan memulai perjalanannya dari pelabuhan Barcelona, Spanyol, menandai upaya bantuan sipil berskala besar terbaru ke wilayah yang terdampak konflik berkepanjangan tersebut.
Rencana Keberangkatan dan Komposisi Relawan
Berbeda dengan misi sebelumnya, penyelenggara menyatakan partisipasi dalam ekspedisi kali ini akan jauh lebih masif. Rencananya, setelah berangkat dari Barcelona, armada akan bergerak menyusuri Mediterania dengan singgah di beberapa pelabuhan, termasuk di Tunisia dan Italia, untuk mengonsolidasi logistik dan menambah peserta.
Dalam sebuah konferensi pers yang digelar dari Johannesburg, Afrika Selatan, aktivis Global Sumud Flotilla Sumeyra Akdeniz Ordu memberikan penjelasan lebih rinci. "Keberangkatan bersejarah pertama akan dilakukan dari Barcelona, diikuti Tunisia, Italia, serta pelabuhan Mediterania lainnya, dan kami akan berlayar kali ini pada 29 Maret," jelasnya.
Dia menambahkan bahwa komposisi relawan menunjukkan fokus pada kapasitas teknis dan dokumentasi. "Tenaga medis profesional bersama kami. Kita akan membangun ramah lingkungan bersama kami. Kami akan memiliki penyelidik kejahatan perang bersama kami, yang merupakan perbedaan dari misi sebelumnya," ungkap Sumeyra, menekankan dimensi baru dari upaya kemanusiaan ini.
Dua Jalur: Laut dan Darat
Yang menarik, misi kali ini tidak hanya mengandalkan jalur laut. Seorang aktivis lain mengungkapkan bahwa akan ada konvoi darat paralel yang bergerak menuju Gaza. Konvoi ini direncanakan membawa muatan serupa mulai dari perlengkapan medis, makanan, hingga berbagai bahan bantuan mendesak lainnya yang sangat dibutuhkan warga sipil.
Para profesional seperti dokter dan insinyur disebutkan akan bergabung dalam rombongan darat yang rencananya berangkat dari Afrika Utara. Rute yang ditempuh akan melintasi Mesir dengan tujuan akhir mencapai perbatasan Rafah. Selain itu, sebuah konvoi darat kedua juga sedang dipersiapkan untuk berangkat dari kawasan Asia Selatan, meski detail teknisnya masih akan diumumkan kemudian.
Menggarisbawahi semangat solidaritas global yang mendasari gerakan ini, sang aktivis menegaskan, "Jadi, koridor-koridor yang digerakkan oleh tenaga manusia ini adalah tanggung jawab kita, dan kita harus benar-benar memikul tanggung jawab sebagai bagian dari seluruh dunia."
Latar Belakang dan Tantangan Misi Sebelumnya
Upaya bantuan sipil semacam ini bukan tanpa risiko dan sejarah kelam. Misi laut Global Sumud Flotilla yang pertama, yang diluncurkan pada pertengahan 2025, berakhir dengan insiden penyerangan dan penyitaan. Lebih dari 40 kapal yang menjadi bagian dari armada bantuan kemanusiaan kala itu disita oleh pasukan Israel.
Akibat insiden tersebut, lebih dari 450 aktivis internasional ditahan. Banyak dari mereka yang kemudian dibebaskan melaporkan pengalaman traumatis dan mengklaim mengalami berbagai bentuk penyiksaan selama masa penahanan. Latar belakang inilah yang membuat persiapan dan pengumuman misi terbaru ini mendapat perhatian khusus dari berbagai kalangan pengamat kemanusiaan dan hak asasi manusia internasional.
Artikel Terkait
Mitsubishi Luncurkan Edisi Khusus 55 Tahun di Indonesia, Destinator dan Xforce Jadi Andalan
Pemerintah Fokuskan Transmigrasi pada Peningkatan Kapasitas SDM dan Infrastruktur
Nissan Perkenalkan Generasi Terbaru Serena e-POWER di IIMS 2026
Siswa SD di Ngada Meninggal Diduga Bunuh Diri, Kemendikdasmen Soroti Kesejahteraan Psikososial Anak