MURIANETWORK.COM - Seorang siswa kelas IV Sekolah Dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), meninggal dunia setelah ditemukan tergantung di sebuah pohon cengkeh milik warga pada Kamis (29/1/2026) siang. Peristiwa memilukan yang menimpa YBR (10) ini terjadi di sekitar pondok tempat ia tinggal bersama neneknya di Kecamatan Jerebuu, menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat setempat.
Pagi Terakhir Sebelum Tragedi
Maria Goreti Te’a (47), ibu kandung almarhum, masih jelas mengingat pagi hari sebelum kepergian putranya. Saat itu, YBR mengeluh pusing dan enggan berangkat sekolah. Meski demikian, dengan harapan anaknya tidak ketinggalan pelajaran, Maria tetap membujuknya untuk pergi. Untuk memastikan YBR sampai, ia bahkan mengantarkan anaknya menggunakan jasa ojek.
Namun, beberapa jam kemudian, kabar buruk justru yang tiba. Bocah berusia sepuluh tahun itu ditemukan tanpa nyawa, menggantung di pohon cengkeh yang letaknya tidak jauh dari rumahnya.
"Saya tidak merasa ada sesuatu yang aneh hari itu. Dia hanya sempat tanya pada hari Senin tentang PIP apa sudah terima," kenang Maria.
Ia kemudian menjelaskan bahwa PIP atau Program Indonesia Pintar adalah bantuan pendidikan dari pemerintah yang sangat dinantikan putranya untuk membayar iuran sekolah.
"Saya bilang PIP belum terima. Uang dari mana? saya minta keterangan dari desa dulu. Untuk tahap pertama uang sekolah sudah lunas, nanti berikutnya kalau PIP sudah cair," tuturnya.
Kehidupan Keluarga di Tengah Tekanan Ekonomi
Latar belakang kehidupan keluarga korban turut menyoroti kompleksitas persoalan ini. Dalam kesehariannya, YBR dikenal sebagai anak yang rajin membantu neneknya berjualan sayur, ubi, dan kayu bakar. Untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, mereka mengandalkan hasil kebun sederhana seperti pisang dan ubi.
Menurut keterangan warga sekitar, keluarga ini telah lama hidup dalam tekanan ekonomi setelah ditinggalkan oleh kepala keluarga. Kondisi tersebut tidak hanya membebani secara finansial, tetapi juga membatasi pendampingan emosional terhadap anak. Akses terhadap berbagai bentuk bantuan sosial, termasuk bantuan rumah layak huni dan pendidikan, disebut-sebut masih sangat minim bagi keluarga ini.
Respons dan Refleksi dari Pemerintah
Tragedi ini pun menarik perhatian Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, menyampaikan duka cita mendalam dan menegaskan bahwa peristiwa ini dipandang sebagai kejadian yang sangat serius.
"Kemendikdasmen memandang peristiwa ini sebagai kejadian yang sangat serius, serta mengingatkan bahwa kesejahteraan psikososial anak merupakan isu yang kompleks," jelas Atip.
Ia menekankan bahwa kondisi emosional anak dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling berkait, sehingga memerlukan perhatian berkelanjutan dari berbagai pihak, mulai dari keluarga, sekolah, masyarakat, hingga negara. Meski mencatat bahwa almarhum merupakan penerima manfaat PIP dan dananya telah disalurkan sesuai prosedur, Atip mengakui bahwa perlindungan anak tidak bisa hanya bergantung pada dukungan finansial.
"Sebagai bagian dari kebijakan afirmasi pendidikan, mendiang murid tercatat sebagai penerima manfaat Program Indonesia Pintar (PIP), yang dananya telah disalurkan sesuai mekanisme yang berlaku," ungkapnya.
Pendampingan psikososial dan penciptaan lingkungan tumbuh kembang yang suportif dinilai sebagai hal yang krusial. Sebagai langkah konkret, Kemendikdasmen melalui Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) NTT telah bergerak melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah.
"Saat ini, Kemendikdasmen melalui Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) NTT telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah bersama perangkat daerah terkait untuk melakukan pendampingan kepada keluarga termasuk menyiapkan dukungan keberlanjutan pendidikan bagi anggota keluarga lainnya," lanjut Atip.
"Selain itu, koordinasi lintas sektor juga dilakukan untuk memastikan keluarga mendapatkan akses layanan sosial dan pendidikan yang dibutuhkan," tambahnya.
Pengingat bagi Semua Pihak
Kasus menyedihkan di Ngada ini menjadi pengingat yang keras tentang dampak multidimensi dari kemiskinan dan keterbatasan pendampingan emosional pada anak. Peristiwa ini menyoroti urgensi kehadiran negara yang lebih holistik dan sensitif dalam melindungi anak-anak, khususnya mereka yang berasal dari keluarga rentan. Di balik angka bantuan yang tercatat, terdapat narasi kehidupan nyata yang membutuhkan pendekatan lebih manusiawi, berkelanjutan, dan menyentuh akar persoalan.
Artikel Terkait
Armada Kemanusiaan Global Sumud Flotilla Bersiap Berlayar ke Gaza Akhir Maret
Nissan Perkenalkan Generasi Terbaru Serena e-POWER di IIMS 2026
Anggota DPR Dorong Satgas Saber Pangan Optimalkan Pengawasan Harga Jelang Ramadan 2026
Kadin Siapkan Strategi Jitu Tarik Investor Global Jelang Pertemuan ABAC 2026