Prabowo Ingatkan Ancaman Perang Dunia Ketiga, Serukan Korve Sampah dan Penertiban Spanduk

- Selasa, 03 Februari 2026 | 06:36 WIB
Prabowo Ingatkan Ancaman Perang Dunia Ketiga, Serukan Korve Sampah dan Penertiban Spanduk

Di Sentul, Bogor, Senin lalu, Presiden Prabowo Subianto berbicara lantang di hadapan para kepala daerah se-Indonesia. Rakornas Pusat dan Daerah itu jadi ajangnya menyampaikan sejumlah arahan penting, termasuk pandangannya tentang kondisi dunia yang sedang tidak baik-baik saja.

Ia membuka dengan nada serius. Dunia saat ini, menurutnya, digelayuti kecemasan yang sama. "Saya baru pulang dari Eropa. Saya ketemu tokoh-tokoh dunia, saya hadir di Davos," ujar Prabowo.

"Puluhan kepala negara hadir. Hampir semua, hampir semua merisaukan pecahnya Perang Dunia ke-3."

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Prabowo kemudian menggambarkan skenario terburuk yang bisa menyapu semua negara, tak peduli mereka terlibat perang atau tidak. Ancaman nuklir menjadi momok utamanya.

"Ada simulasi, kalau terjadi Perang Dunia Ketiga, nuklir, kita yang tidak terlibat saja pasti kena," katanya tegas.

Dampaknya, lanjut dia, akan merasuk ke mana-mana. Partikel radioaktif bakal menyebar, bahkan mencemari lautan. "Kita akan kena partikel-partikel radioaktif. Mungkin ikan-ikan kita nanti akan terkontaminasi semua." Tak cuma itu, partikel nuklir bisa menutupi sinar matahari, mengacaukan iklim global. Situasi ini, ditambah dengan perubahan iklim yang nyata, membuatnya berkeras: Indonesia harus mandiri.

Namun begitu, perhatiannya tak melulu ke langit. Masalah yang sangat dekat, sangat kasat mata, juga jadi sorotan. Yaitu sampah.

Presiden langsung memberi perintah tegas. Ia meminta semua kementerian, lembaga, dan BUMN untuk memulai kerja bakti atau dalam istilah militernya, 'korve' membersihkan lingkungan sekitar kantor sebelum mulai bekerja.

"Danantara, semua BUMN, ribuan anak buahnya korve! Saya tidak mau lihat plastik atau sampah di sekitar kantor BUMN," serunya.

Arahan itu disambut riuh peserta dengan teriakan "siap!". Tapi Prabowo langsung menyergah. "Benar ya? Jangan siap, siap, siap," ujarnya, menekankan bahwa yang dibutuhkan adalah aksi nyata, bukan sekadar jawaban seremonial.

Persoalan estetika kota juga ia singgung. Dalam kunjungannya ke berbagai daerah, Prabowo jengkel melihat pemandangan yang seragam: spanduk dan baliho iklan yang memenuhi sudut kota.

"Kalau saya ke Balikpapan dan saya ke Banjarmasin hampir tidak berbeda, spanduk-spanduk-spanduk," keluhnya.

Dia bahkan menyindir iklan yang dianggapnya tak perlu berukuran besar. "Ayam goreng pesan satu dapat satu free, kenapa harus besar-besar sih."

Bagi Prabowo, wajah kota, terutama daerah wisata, harus dijaga. Turis datang untuk menikmati keindahan, bukan deretan reklame. Dia mengambil contoh Bogor, kota yang dikenangnya sangat indah dan bahkan menjadi tempat favorit Bung Karno.

"Dari dulu aku ingin tinggal di Bogor, akhirnya jadi Presiden ya tinggal di Bogor," candanya ringan.

Penertiban spanduk ini, ia tekankan, harus dilakukan dengan cara yang baik lewat dialog. Poinnya jelas: dari ancaman perang global sampai sampah di pinggir jalan, semua perlu tindakan serius. Dan itu dimulai dari hal-hal yang paling dekat.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar