Jakarta, Kamis lalu, menjadi lokasi pertemuan penting antara Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dan Wakil Menteri Luar Negeri Italia, Maria Tripodi. Kunjungan ini bukan sekadar formalitas belaka. Keduanya duduk membahas langkah-langkah konkret untuk mengeratkan kemitraan strategis, dengan fokus utama pada perdagangan dan investasi.
Angka-angka perdagangan bilateral memang terlihat menggembirakan. Sepanjang tahun 2024 lalu, nilai perdagangan kedua negara menyentuh angka USD 3,9 miliar. Tren positif ini terus berlanjut. Menurut catatan sembilan bulan pertama 2025, transaksi bilateral sudah mencapai USD 3,289 miliar. Sebuah sinyal yang cukup menjanjikan di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Dalam keterangan tertulisnya di hari berikutnya, Jumat (9/1), Airlangga tak segan menyampaikan apresiasi.
Di sisi lain, Tripodi menegaskan posisi Indonesia yang sangat penting bagi Italia. Menurutnya, Indonesia bukan hanya mitra dagang, tetapi juga negara dengan stabilitas politik yang kuat dan potensi besar di kawasan Asia Tenggara. Hubungan diplomatik yang sudah berusia 77 tahun, katanya, harus dimanfaatkan untuk menghasilkan manfaat yang lebih nyata.
Pembicaraan pun merambah ke ranah yang lebih teknis. Delegasi Italia menyodorkan beberapa perusahaan berteknologi tinggi asal mereka yang siap berkontribusi. Salah satunya adalah e-GEOS, perusahaan aerospasial yang keahliannya bisa dimanfaatkan Indonesia untuk mengawasi perairan nasional dari ancaman penangkapan ikan ilegal. Mereka juga punya usulan menarik: meningkatkan volume perdagangan dengan Uni Eropa melalui pemanfaatan Pelabuhan Trieste dan Genoa, terutama di tengah kondisi rantai pasok global yang masih rentan.
Artikel Terkait
Anggaran Aceh Tak Dipangkas, Prabowo Beri Lampu Hijau di Tengah Bencana
Medvedev Peringatkan Eropa dengan Video Serangan Rudal Hipersonik ke Ukraina
Waspada! Link Pendaftaran BSU 2026 Ternyata Hoaks, Kemnaker Tegaskan Belum Ada Kebijakan
Jerman Perketat Hukum untuk Hadang Gelombang Deepfake dan Pelecehan Digital