Lantas, bagaimana ke depannya?
Ichwan menekankan, strategi pencetakan SDM harus diubah. Fokusnya perlu lebih terarah pada bidang STEM science, technology, engineering, and mathematics. Dia mendorong perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, untuk segera menyesuaikan kurikulum. Tujuannya jelas: agar lulusan yang dihasilkan relevan dengan kebutuhan industri teknologi yang terus bergerak cepat.
Pernyataan itu sekaligus jadi peringatan. Penguatan pendidikan STEM, menurutnya, harus jadi arus utama jika Indonesia tak ingin terus tertinggal dalam perebutan investasi teknologi bernilai tinggi.
Upaya lain yang sedang digenjot adalah kolaborasi lebih erat antara industri dan kampus. Pemerintah mendorong adanya link and match yang nyata antara dunia usaha dan akademik. Harapannya, selain menciptakan tenaga kerja yang siap pakai, daya tarik Indonesia di mata investor global juga ikut terdongkrak.
Pada akhirnya, kasus Nvidia ini jadi pengingat yang cukup keras. Di peta persaingan investasi teknologi, ketersediaan SDM unggul ternyata masih menjadi PR besar yang belum tuntas.
Artikel Terkait
Timnas U-17 Hadapi Timor Leste di Pembuka Piala AFF, Tekanan Tinggi Usai Catatan Buruk
KAI Daop 1 Jakarta Tegas Akan Tindak Pelaku Buang Sampah Sembarangan di Stasiun
Kebijakan WFH ASN Turunkan Jumlah Penumpang LRT Jabodebek 10 Persen
Arbeloa Tegaskan Real Madrid Tak Akan Menyerah di Pengejaran Gelar La Liga