Kabinet kerja ini memang tak main-main. Di tengah terik Karawang, Rabu lalu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bercerita tentang tekanan yang ia rasakan. Target swasembada pangan yang terus dipacu, dari rencana awal 4-5 tahun, dipangkas jadi 3 tahun, lalu akhirnya cuma satu tahun. Tekanannya luar biasa, akunya.
“Izin Bapak Presiden, kami bukan kerja sendiri. Kalau sendirian, saya pasti tidak capai apa yang kita lihat hari ini,” ujar Amran.
Ia mengaku sampai sakit-sakitan. Vertigo dan asam lambung menyerang di puncak tekanan kerja itu. “Saat target menjadi satu tahun, kami vertigo, sampai asam lambung. Alhamdulillah hari ini sudah mulai sembuh dan recovery kembali,” tuturnya. Namun begitu, semua kerja keras itu rupanya membuahkan hasil yang ia sebut mulai terlihat.
Menurut paparannya, produksi beras nasional tahun 2025 lalu berhasil mencapai angka 34 juta ton. Posisi stok pun diklaim sangat kuat. Saat ini stok beras ada di angka 3,2 juta ton, bahkan pernah menyentuh 4 juta ton. Angka ini, klaim Amran, lebih tinggi dari stok saat Indonesia dulu dapat penghargaan dari FAO.
Di sisi lain, soal gula putih, pemerintah memastikan tidak akan impor pada 2026. Optimalisasi produksi tebu, dengan kontribusi besar 50 persen dari penggilingan di Jawa Timur, jadi kuncinya.
Artikel Terkait
Banjir dan Longsor Sapu 22 Desa di Halmahera Utara, Akses Bantuan Terkendala
Pasar Mobil Listrik 2026: Insentif Berakhir, Perang Harga China Jadi Penyeimbang
Cici Maulina: Dari Pemain hingga Pelatih, Setia Membela Garuda Pertiwi
Indef Ingatkan Pemerintah: Program Makan Gratis Bisa Jadi Beban Fiskal Jika Tak Ditata