Pasar Mobil Listrik 2026: Insentif Berakhir, Perang Harga China Jadi Penyeimbang

- Jumat, 09 Januari 2026 | 15:36 WIB
Pasar Mobil Listrik 2026: Insentif Berakhir, Perang Harga China Jadi Penyeimbang

Peta persaingan otomotif nasional bakal berubah lagi di tahun 2026. Pemicunya? Insentif fiskal untuk mobil listrik impor yang akan berakhir, ditambah rencana kenaikan PPN. Dua hal ini diprediksi bakal mengacak-acak strategi para pemain di lapangan.

Merek-merek asal China, yang selama ini begitu dominan di pasar elektrifikasi, kini mulai melihat bayang-bayang tantangan baru. Di satu sisi, segmen low cost green car (LCGC) konvensional berpotensi bangkit. Di sisi lain, mobil hybrid (HEV) juga makin banyak dilirik.

Menurut pengamat otomotif dari ITB, Yannes Martinus Pasaribu, gempuran merek China dengan harga kompetitif dan fitur melimpah sebenarnya sudah menggeser paradigma pasar. Konsumen tak serta merta mau kembali ke teknologi lama.

“Merek China tetap agresif melakukan perang harga dan efisiensi manufaktur untuk membendung potensi kebangkitan segmen LCGC ICE konvensional,”

Ujarnya saat dihubungi Kamis lalu. Intinya, tanpa kehadiran produk elektrifikasi yang harganya terjangkau baik hybrid maupun listrik murni pasar berisiko mengalami kemunduran. Bayangkan saja, harga mobil listrik bisa melonjak usai insentif dicabut. Kalau sudah begitu, wajar jika konsumen kembali melirik LCGC yang lebih murah.

Namun begitu, strategi produsen China yang memangkas biaya produksi dan margin keuntungan justru membangun semacam 'tembok pertahanan'. Tujuannya jelas: agar konsumen tetap bertahan di jalur teknologi yang lebih maju.

“Tanpa skema seperti ini, industri berisiko mengalami pergerakan besar kembali ke segmen LCGC atau ICE konvensional karena lonjakan harga setelah insentif umum (mobil listrik) berakhir,”

lanjut Yannes. Jadi, agresivitas mereka bukan cuma soal harga murah semata. Ini soal efisiensi menyeluruh, mulai dari proses manufaktur, rantai pasok, hingga upaya lokalisasi komponen di dalam negeri.

Nah, pemerintah juga tak tinggal diam. Kemenperin berencana merombak skema insentif, yang nantinya akan berbasis TKDN, standar emisi, dan batasan harga. Tujuannya agar subsidi lebih tepat sasaran. Dengan kebijakan baru ini, pabrikan didorong untuk memproduksi secara lokal jika ingin dapat keringanan. Harapannya, industri otomotif dalam negeri secara keseluruhan bisa lebih sehat.

Momen Emas untuk Hybrid?

Yannes juga punya pandangan menarik. Ia melihat teknologi hybrid (HEV) justru bisa jadi pihak yang paling diuntungkan nanti pada 2026.

“Antara kebangkitan ICE, LCGC, dan HEV, HEV paling diuntungkan sebagai jembatannya karena ia tidak memicu range anxiety untuk area luar kota besar dan di luar Jawa,”

jelasnya. Mobil hybrid dinilai cocok untuk konsumen rasional di daerah, yang butuh efisiensi bahan bakar tanpa pusing memikirkan jarak tempuh atau ketersediaan stasiun pengisian.

Sementara itu, nasib kendaraan listrik murni (BEV) diprediksi akan tumbuh lebih selektif. Fokusnya akan beralih ke model yang diproduksi lokal dan memenuhi ambang batas TKDN. Adapun plug-in hybrid (PHEV) kemungkinan besar akan tetap bertahan di segmen premium.

Dengan tekanan harga yang makin tinggi dan daya beli kelas menengah yang belum pulih benar, persaingan antar merek dipastikan akan semakin sengit. Dalam situasi seperti ini, perang harga yang digencarkan merek-merek China justru bisa menjadi penyeimbang. Strategi itu menjaga agar pasar tetap bergerak maju, tidak mundur ke titik awal.

Pada akhirnya, arah pasar otomotif 2026 tak cuma ditentukan oleh kebijakan pemerintah. Respons dan strategi para pemain global dalam membaca selera konsumen Indonesia yang kini makin rasional dan sensitif harga akan menjadi penentu utamanya.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar