Cici Maulina: Dari Pemain hingga Pelatih, Setia Membela Garuda Pertiwi

- Jumat, 09 Januari 2026 | 14:24 WIB
Cici Maulina: Dari Pemain hingga Pelatih, Setia Membela Garuda Pertiwi

Lapangan hijau sepertinya tak pernah benar-benar melepas Maulina Novryliani. Perannya memang berganti, dari pemain hingga ke pinggir lapangan, tapi tekadnya tetap satu: membela Timnas Wanita Indonesia.

Perempuan yang akrab disapa Cici ini sekarang memegang peran baru sebagai asisten pelatih Garuda Pertiwi. Sebelum sampai di sini, jalannya berliku. Ia pernah jadi pemain sepak bola, atlet futsal, bahkan staf di PSSI. Semua pengalaman lintas peran itu kini ia bawa, mencoba memberi warna berbeda untuk tim kebanggaannya.

Kisah perjalanannya ia ceritakan di Community Center Pamulang, Tangerang, pada suatu Rabu di awal Januari.

Bukan dari Akademi, Tapi dari Niat Bertanding

Ceritanya dimulai di bangku SMA. Maulina mengenal sepak bola bukan lewat sekolah khusus, tapi dari keinginan sederhana: cari klub agar bisa main.

“Awalnya itu dari kelas dua SMA. Jadi nyari-nyari klub nih, tahun 2003 lah. Kebetulan dapat klub di UNJ,” kenang Maulina.

Dari klub itulah ia mulai terjun ke kejuaraan nasional. Jalan menuju timnas pun terbuka. Seleksi 2004 sempat dijalaninya, tapi belum berlanjut karena harus fokus ujian nasional.

Namun begitu, kesempatan itu datang lagi setahun kemudian.

Alhamdulillah setelah UN lulus masuk UNJ, terus coba lagi ikut Kejurnas lagi, kepilih lagi,” ucapnya.

Puncaknya di tahun 2008. Di bawah asuhan Timo Scheunemann, ia resmi memperkuat Timnas Wanita Indonesia. Tapi siapa sangka, setelah periode itu, justru futsal yang menarik langkahnya.

Terjebak di Persimpangan: Bola atau Futsal?

Di futsal, kariernya ternyata tak kalah moncer. Dari 2011 sampai 2018, ia menghiasi berbagai ajang besar, SEA Games hingga Piala Asia. Bahkan, ia pernah dihadapkan pada pilihan sulit saat seleksi untuk kedua cabang nyaris berbarengan.

“Karena sudah dipilih duluan di seleksi futsal, akhirnya saya izin waktu itu pelatihnya masih almarhum Satya Bagja. Kebetulan Pak Satya juga dosen saya di UNJ. Saya izin ikut futsal dulu, kalau memang rezekinya di sepak bola, nanti saya gabung di sepak bola,” tuturnya.

Setelah tugas di ajang AFC futsal selesai, ia akhirnya kembali. Ikut membela timnas di Asian Games 2018. Tapi, jadwal yang padat di dua cabang mulai terasa berat. Hampir sepuluh tahun jadi atlet, muncul rasa lelah. Pikirannya mulai beralih.


Halaman:

Komentar