Masjid Bergaya Kelenteng di Jakarta Timur, Kisah Perjalanan Spiritual Sang Pendiri

- Rabu, 25 Februari 2026 | 18:50 WIB
Masjid Bergaya Kelenteng di Jakarta Timur, Kisah Perjalanan Spiritual Sang Pendiri

Warna merah dan emas mendominasi. Lampion-lampion berjajar rapi di sepanjang jalan masuk. Sekilas, bangunan di sudut Pasar Rebo, Jakarta Timur ini lebih mirip kelenteng. Tapi, coba dengarkan. Suara azan yang berkumandang dari dalamnya segera meluruskan persepsi: ini adalah Masjid Tjia Kaang Hoo.

Keunikannya langsung menyergap mata. Berbeda dari masjid pada umumnya yang bergaya Timur Tengah, tempat ibadah di Jalan Haji Soleh ini justru mengadopsi arsitektur Tiongkok secara menyeluruh. Dari gerbang, tata ruang, hingga hiasan-hiasannya. Menurut Frans (37), Pengurus DKM sekaligus Ketua Yayasan Haji Abdul Soleh, pilihan desain ini punya maksud khusus.

“Jadi yang pertama, mengenai arsitekturnya… sebetulnya ini berbentuk seperti kelenteng. Kenapa? Untuk mengingat sejarah almarhum Haji Abdul Soleh atau Tjia Kaang Hoo. Sebelum memeluk Islam, beliau ini Kong Hu Chu. Sehingga kita abadikan dalam sebuah bangunan,” jelas Frans suatu Rabu di akhir Februari.

Memang, sang pendiri masjid, Tjia Kaang Hoo, dulunya beragama Kong Hu Chu. Setelah menjadi mualaf, beliau aktif menyebarkan Islam melalui majelis taklim yang diadakan di rumahnya lokasi yang kini berdiri masjid ini.

Namun begitu, kalau diamati lebih saksama, arsitekturnya ternyata lebih kompleks. Ini adalah perpaduan yang menarik antara unsur Islam, Betawi, dan Tiong Hoa. Lihat saja hiasan gigi balang khas Betawi yang terpasang rapi di bagian luar.

“Nah, ini seperti gigi gigi balang di depan. Ini khas Betawi, yang paling menonjol dalam budaya Betawi,” ucap Frans sambil menunjuk.

Di dalam, nuansa lain langsung terasa. Tembok area imam dipenuhi kaligrafi Asmaul Husna yang mengilap berbalut emas. Lampu-lampu yang dipasang mempertegas kilauannya, menciptakan atmosfer yang khidmat.

Editor: Dewi Ramadhani


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar