Banjir dan Longsor Sapu 22 Desa di Halmahera Utara, Akses Bantuan Terkendala

- Jumat, 09 Januari 2026 | 15:40 WIB
Banjir dan Longsor Sapu 22 Desa di Halmahera Utara, Akses Bantuan Terkendala

Rabu malam lalu, tepatnya pukul delapan malam waktu setempat, bencana melanda Halmahera Utara. Hujan yang mengguyur tak henti memicu banjir dan tanah longsor yang menyapu 22 desa di lima kecamatan berbeda. Keadaan langsung berubah kacau.

Data terbaru dari BPBD setempat, yang dirilis Jumat kemarin, benar-benar memilukan. Abdul Muhari, sang Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BPB, menyebutkan lebih dari seribu dua ratus rumah terendam. Dari jumlah itu, sekitar dua puluh unit mengalami kerusakan yang parah.

“Tercatat satu warga meninggal dunia akibat kejadian ini,”

tulis Aam sapaan akrab Abdul Muhari dalam keterangan resminya.

Kerusakannya ternyata lebih luas. Tak cuma permukiman warga, sebanyak 11 fasilitas umum juga ikut terdampak. Di Desa Togawa, Kecamatan Galela Selatan, situasinya cukup mencemaskan. Ratusan jiwa terpaksa meninggalkan rumah mereka.

“Sebanyak 71 kepala keluarga (KK) atau 282 jiwa di Desa Togawa, Kecamatan Galela Selatan, mengungsi secara mandiri ke rumah kerabat dan pasar desa setempat,”

jelas Aam lebih lanjut.

Namun begitu, upaya pertolongan tidak berjalan mulus. Tim di lapangan menghadapi kendala besar: akses terputus di beberapa titik vital. Jembatan penghubung Desa Posiposi dan Desa Tate, misalnya, tak bisa dilalui. Begitu pula dengan Jembatan Kali Baru di Desa Doduwo. Longsoran material di jalur menuju Loloda Utara pun memblokir jalan untuk kendaraan roda empat.

Alternatif lewat laut? Sayangnya, juga bukan pilihan yang mudah. Cuaca buruk masih mengancam, membuat jalur ini berisiko tinggi.

Di tengah segala keterbatasan itu, petugas di lapangan berupaya keras. Mereka mencoba menembus wilayah terisolir menggunakan rakit sederhana. Koordinasi dengan TNI, Polri, dan dinas sosial juga terus digenjot untuk mempercepat respons. Upaya mereka sungguh luar biasa di tengah kondisi yang serba sulit.

Merespons rentetan bencana ini, BNPB pun mengeluarkan imbauan khusus. Pemerintah daerah dan masyarakat diminta untuk tetap siaga terhadap potensi bencana hidrometeorologi yang mungkin masih mengintai.

“Masyarakat diminta menjauhi wilayah rawan dan segera melakukan evakuasi mandiri apabila terjadi kondisi darurat, sementara pemerintah daerah diharapkan memastikan kesiapan personel, sarana prasarana, serta pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak untuk langkah kesiapsiagaan menghadapi bencana,”

imbau Aam menutup pernyataannya.

Malam itu di Halmahera Utara meninggalkan duka dan kerusakan. Proses pemulihan masih panjang, dan kewaspadaan harus tetap dijaga.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar