Namun begitu, upaya pertolongan tidak berjalan mulus. Tim di lapangan menghadapi kendala besar: akses terputus di beberapa titik vital. Jembatan penghubung Desa Posiposi dan Desa Tate, misalnya, tak bisa dilalui. Begitu pula dengan Jembatan Kali Baru di Desa Doduwo. Longsoran material di jalur menuju Loloda Utara pun memblokir jalan untuk kendaraan roda empat.
Alternatif lewat laut? Sayangnya, juga bukan pilihan yang mudah. Cuaca buruk masih mengancam, membuat jalur ini berisiko tinggi.
Di tengah segala keterbatasan itu, petugas di lapangan berupaya keras. Mereka mencoba menembus wilayah terisolir menggunakan rakit sederhana. Koordinasi dengan TNI, Polri, dan dinas sosial juga terus digenjot untuk mempercepat respons. Upaya mereka sungguh luar biasa di tengah kondisi yang serba sulit.
Merespons rentetan bencana ini, BNPB pun mengeluarkan imbauan khusus. Pemerintah daerah dan masyarakat diminta untuk tetap siaga terhadap potensi bencana hidrometeorologi yang mungkin masih mengintai.
“Masyarakat diminta menjauhi wilayah rawan dan segera melakukan evakuasi mandiri apabila terjadi kondisi darurat, sementara pemerintah daerah diharapkan memastikan kesiapan personel, sarana prasarana, serta pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak untuk langkah kesiapsiagaan menghadapi bencana,”
imbau Aam menutup pernyataannya.
Malam itu di Halmahera Utara meninggalkan duka dan kerusakan. Proses pemulihan masih panjang, dan kewaspadaan harus tetap dijaga.
Artikel Terkait
Rupiah Melemah, Investor Asing Justru Borong Saham dan SRBI
Indro Warkop Prihatin: Pelaporan Pandji ke Polisi Dinilai Kemunduran Cara Berpikir
Ganjar Tegaskan PDIP Tolak Pilkada Lewat DPRD
Persija Siap Hantam Persib di GBLA, Perebutan Puncak Klasemen Taruhannya