Sarah Azhari Buka Suara: Trauma Direkam Diam-diam Saat Casting
Sudah lama Sarah Azhari menyimpan kisah ini. Tapi kini, ia memutuskan untuk bicara. Pengalaman pahit itu bukan cuma mengguncang hidupnya, tapi juga meninggalkan bekas yang dalam luka psikologis yang bertahan bertahun-tahun, bahkan memicu PTSD.
Semuanya berawal dari sebuah casting produk kecantikan. Menurut Sarah, prosesnya berjalan sangat cepat. Casting cuma sekali, langsung dapat, dan pemotretannya pun dilaksanakan hari itu juga.
“Jadi waktu itu castingnya cuma sekali, terus aku langsung dapat dan pemotretannya hari itu juga,” ujarnya dalam sebuah wawancara.
Namun, di balik kesan yang terlihat lancar, ada masalah besar mengintai. Sarah baru tahu belakangan, bahwa dirinya diam-diam direkam di dalam toilet saat berganti baju.
Rekaman privat itu, yang seharusnya jadi haknya, malah disalahgunakan. Oknum tak bertanggung jawab memperjualbelikannya secara ilegal dalam bentuk VCD.
“Aku lagi di toilet, ya namanya juga perempuan itu namanya privasi kan,” katanya dengan suara lirih. “Tiba-tiba diperjualbelikan VCD-nya kita tidak lagi mengenakan busana, lagi melakukan hal-hal yang personal.”
Dampaknya? Luar biasa besar. Di balik imej seksi yang melekat, Sarah mengaku mengalami gangguan stres pascatrauma. “Kena PTSD jadinya,” akunya. Ia mungkin terlihat kuat, tapi di depan orang banyak, keraguan selalu muncul. Pikiran seperti, “ini orang nanti mikirnya gimana udah lihat aku kayak gitu,” terus menghantui.
Tragisnya, efeknya merembet ke keluarga. Adik laki-lakinya ikut menjadi korban. Saat kejadian, adiknya masih duduk di bangku sekolah.
“Dan itu bukan hanya menghancurkan saya sebenarnya, tapi menghancurkan adik saya juga, terutama yang laki-laki,” tutur Sarah.
Rasa malu dan tekanan sosial memaksa sang adik hidup dengan rahasia besar. Selama SMA, ia memilih untuk menyembunyikan identitasnya sebagai adik Sarah Azhari. Ibunya pernah bercerita, sang adik malu karena teman-teman cowoknya ternyata memiliki VCD itu.
“Jadi dia tuh incognito selama SMA, dia enggak mau ada orang tahu kalau dia adiknya saya,” kenang Sarah.
Hidup tanpa identitas itu adalah pilihan sulit, sebuah tameng dari potensi perundungan dan cibiran. Trauma itu, kata Sarah, bukan miliknya sendiri.
“Jadi dia kasihan, dia trauma juga. Bukan hanya saya yang trauma, tapi dia juga,” pungkasnya dengan nada berat.
Artikel Terkait
PRIMARIA FEST 2026 Siap Digelar di Empat Kota, Angkat Indonesian Bounce Music ke Panggung Lebih Luas
RCTI Luncurkan Healing Jalur King Nassar, Variety Show yang Padukan Curhat, Musik, dan Empati
Yenny Wahid Akui Salah Dress Code di Pernikahan El Rumi dan Syifa Hadju
Prabowo Hadiri Resepsi Pernikahan El Rumi dan Syifa Hadju, Sebut Ahmad Dhani Sahabat dan Kader Gerindra