Wall Street bersiap menghadapi pekan yang penuh ujian. Sentimen pasar masih terbelah antara harapan dan kecemasan, dengan dua faktor utama yang akan jadi sorotan: data inflasi terbaru dan laporan awal kinerja perusahaan-perusahaan besar. Di sisi lain, ketegangan di Timur Tengah tetap jadi bayang-bayang yang mengintai, meski ada sinyal-sinyal kecil yang mungkin mengarah pada gencatan senjata.
Setelah melalui kuartal pertama yang suram terburuk sejak 2022 S&P 500 akhirnya berhasil mengakhiri tren penurunan lima minggu berturut-turut. Kenaikan itu terjadi dalam pekan perdagangan singkat jelang Paskah, memberi sedikit napas lega. Tapi tekanan dari perang dan harga energi yang melonjak sejak akhir Februari jelas masih terasa.
“Sulit banget untuk mengalihkan perhatian pasar dari Timur Tengah, harga minyak, dan risiko yang muncul,” kata Matthew Miskin, co-chief investment strategist di Manulife John Hancock Investments.
“Pasar masih sangat terfokus pada risiko geopolitik dan perkembangannya,” tambahnya.
Lonjakan harga minyak mentah AS pekan lalu jadi buktinya. Harganya sempat menembus USD110 per barel pada Kamis, setelah sebelumnya menutup pekan di atas level USD100 untuk pertama kalinya dalam empat tahun. Ini bikin semua waspada.
Nah, ujian sesungguhnya datang minggu depan. Data Indeks Harga Konsumen (CPI) untuk Maret, yang dirilis 10 April, akan jadi indikator pertama untuk mengukur dampak goncangan energi itu terhadap inflasi. Menurut survei Reuters, CPI diperkirakan naik 0,9% secara bulanan. Kalau komponen volatile seperti makanan dan energi disisihkan, inflasi inti diprediksi lebih moderat, yaitu sekitar 0,3%.
Selain CPI, ada juga data Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) yang akan dirilis. Meski begitu, data PCE ini masih mencerminkan kondisi Februar sebelum dampak perang sepenuhnya merambat ke ekonomi.
Sementara trader mencermati angka-angka inflasi, perhatian juga mulai beralih ke kinerja perusahaan. Musim laporan laba kuartal pertama sebentar lagi dimulai, dan Wall Street berharap pertumbuhan laba yang kuat bisa jadi penopang pasar tahun ini. Beberapa nama seperti Delta Air Lines dan Constellation Brands akan membuka tirai lebih dulu dengan melaporkan hasilnya minggu depan.
Laporan-laporan awal ini ibarat gambaran sekilas sebelum gelombang besar dimulai pertengahan April. Secara keseluruhan, analis memproyeksikan perusahaan-perusahaan di S&P 500 akan mencatat kenaikan laba rata-rata 14,4% dibanding tahun lalu.
Seorang analis ekuitas Deutsche Bank menyebut, “Musim laporan laba kuartal pertama yang dimulai pertengahan April diperkirakan menunjukkan bahwa pertumbuhan laba masih menguat dan semakin luas.”
Jadi, pekan depan adalah tentang dua narasi: seberapa parah inflasi tersengat harga minyak, dan apakah korporasi Amerika masih cukup tangguh menghadapi badai geopolitik. Jawabannya akan menentukan arah pasar saham dalam beberapa minggu ke depan.
Artikel Terkait
Wall Street Menguat di Awal Perdagangan, Optimisme AI dan Harapan Damai AS-Iran Jadi Pendorong
PT Segar Kumala Indonesia Alihkan Transaksi Impor ke Yuan China untuk Tekan Dampak Pelemahan Rupiah
Citra Tubindo Bagikan Dividen 21,78 Juta Dolar AS ke Pemegang Saham
PT BEEF Rombak Direksi dan Komisaris, Ari Wijayanto Ditunjuk sebagai Dirut Baru