Pensiunan BUMN Sukses Kembangkan Budi Daya Ikan Nila Bioflok di Bogor, Raup Omzet Jutaan Rupiah

- Rabu, 27 Mei 2026 | 22:20 WIB
Pensiunan BUMN Sukses Kembangkan Budi Daya Ikan Nila Bioflok di Bogor, Raup Omzet Jutaan Rupiah

Suara rintik hujan berpadu dengan desis gelembung udara dari kolam bioflok di halaman rumah Ruskandar, menciptakan simfoni aktivitas budi daya yang tak pernah berhenti. Di Desa Purwasari, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, gelembung-gelembung kecil yang muncul dari aerator itu menjadi penanda kehidupan bagi ribuan ikan nila yang berenang di delapan kolam miliknya.

Pria berusia 63 tahun tersebut tampak gesit dan antusias saat berkeliling memperlihatkan kolam-kolam ikannya di tengah cuaca mendung. Ruskandar, yang merupakan pensiunan dari salah satu perusahaan BUMN, memilih untuk memanfaatkan lahan di depan rumahnya sebagai sumber penghasilan tambahan setelah puluhan tahun berkutat dengan ritme pekerjaan kantoran.

Perjalanan Ruskandar dalam dunia perikanan dimulai pada 2019 dengan sistem konvensional. Namun, hasil yang diperoleh saat itu belum memuaskan karena produksi ikan yang rendah dan keterbatasan air di wilayahnya. Hal ini mendorongnya untuk mencari metode alternatif yang lebih efisien.

Pada 2025, ia memutuskan beralih ke sistem bioflok, sebuah teknik budi daya ikan yang mengandalkan rekayasa lingkungan dengan pasokan oksigen dan pemanfaatan mikroorganisme. Informasi mengenai metode ini diperolehnya dari internet serta masukan dari rekan-rekannya di Institut Pertanian Bogor (IPB).

“Kalau sistem konvensional per meter kubik itu hanya mampu menampung 25 ekor, kalau ini satu kubik air bisa menampung 150 sampai 200 ekor dengan syarat memang harus ada kecukupan parameternya, seperti oksigennya, kemudian pH, temperatur, penanganan amoniaknya, nitrat-nitritnya,” ujar Ruskandar saat ditemui, Kamis (14/5/2026).

Saat ini, ia mengelola delapan kolam dengan rincian enam kolam untuk pembesaran, satu untuk pemijahan, dan satu lagi untuk ikan siap panen. Setiap kolam berukuran sekitar 20 meter persegi dengan kepadatan 2.500 hingga 3.000 ekor ikan. “Jadi saya lebih menggunakan sistem tebar padat,” katanya.

Namun, peralihan ke metode bioflok tidak berjalan mulus. Ruskandar sempat kesulitan mendapatkan bibit ikan karena jarak pembelian yang jauh, yang berdampak pada tingginya angka kematian. “Mungkin handling-nya kurang bagus sehingga beli 8.000 ekor itu yang tersisa cuma 1.250 Pak,” ujarnya mengenang pengalaman pahit tersebut. Dari kegagalan itu, ia belajar memperbaiki cara pengambilan bibit hingga aman dibudidayakan.

Proses pembesaran bibit ikan berlangsung selama kurang lebih empat bulan. Dalam satu kolam, hasil panen bisa mencapai enam kuintal. Jika dijumlahkan seluruh kolam pembesaran, produksi ikan bisa mencapai lebih dari tiga ton. “Mudah-mudahan aja pasarnya bisa terus bagus,” harap Ruskandar.

Pemasaran ikan saat ini masih dilakukan secara langsung dari rumah, belum melalui platform daring. Pembelinya beragam, mulai dari pedagang eceran, pemilik rumah makan, hingga pengelola koperasi ikan dari Bogor, Jakarta, dan Tangerang. Harga jual pun bervariasi, di mana pembeli dari Bogor mendapatkan harga lebih murah dibandingkan daerah lain. “Karena umumnya pembeli dari Jakarta itu dia hanya bawa uang saja. Tidak bawa gas oksigen, tidak bawa plastik, tidak bawa peralatan, jadi kita yang nyiapin,” imbuhnya.

Usaha budi daya ikan Ruskandar baru stabil pada awal 2026. Ia menerima testimoni positif dari konsumen yang menilai ikan hasil metode bioflok lebih unggul dibandingkan metode konvensional. “Alhamdulillah mungkin dari testimoni pelanggan bahwa ikan yang dihasilkan dari kolam bioflok itu tidak bau lumpur, terus dagingnya lebih enak ya, kemudian dagingnya lebih tebal,” ujarnya.

Dalam sekali panen, keuntungan yang diperoleh bisa mencapai Rp2 juta per satu kolam atau sekitar Rp12 juta dari seluruh kolam. Selain itu, usaha ini memungkinkan Ruskandar mempekerjakan satu orang pegawai secara temporer saat dibutuhkan, seperti saat panen, pemeliharaan, dan sortir. “Jadi nggak tiap hari,” katanya.

Ruskandar menyampaikan bahwa usaha ini membantu menopang kebutuhan keluarganya di masa pensiun. “Secara ekonomi membantu. Membantu mendapatkan nilai tambah untuk kebutuhan keluarga. Karena saya sudah pensiun, di mana berbeda pendapatan dulu ketika kerja dengan yang sudah pensiun,” imbuhnya. Dampak positif juga dirasakan masyarakat sekitar yang kini bisa membeli ikan dengan harga lebih murah dari pasar. “Alhamdulillah terutama masyarakat yang berdagang, jualan nasi terutama. Mereka tidak harus jauh-jauh lagi ke pasar, sudah bisa langsung pesan,” tuturnya.

Dalam proses pengembangan usahanya, Ruskandar mengajukan pinjaman sebesar Rp15 juta melalui program Kredit Umum Pedesaan (Kupedes) BRI. “Alhamdulillah terbantu, menjadi teratasi,” katanya. Ia menyampaikan apresiasi atas respons cepat pihak bank. “Saya mengucapkan terima kasih banyak untuk BRI yang bisa membantu dengan cepat. Dalam hitungan beberapa hari sudah direspons. Kemudian disurvei, beberapa hari kemudian langsung bisa direalisasi,” ujar dia.

Kepala Unit BRI Sindang Barang, Jexon Markus, mengapresiasi langkah Ruskandar yang beralih ke metode bioflok. Menurutnya, penggunaan teknologi dalam usaha budi daya ikan tersebut tepat sasaran. “Jadi penggunaannya itu memang tepat guna. Sehingga membantu nasabah dalam pengelolaan usahanya,” ujar Jexon dalam wawancara terpisah.

Jexon menambahkan bahwa proses pengajuan pinjaman modal Ruskandar juga mendapat pendampingan dari BRI untuk memastikan kelancaran usaha. Ia menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung perekonomian masyarakat dan mendorong terbentuknya ekosistem ekonomi yang berkelanjutan. “Kami inginnya itu membantu masyarakat setempat, menjadi ekosistem baru di BRI juga. Jadi, ekosistemnya itu sudah berjalan dari bibit, pakan, terus penyaluran dan penjualan. Itu sudah dijalankan oleh nasabah dan ekosistemnya itu masuk ke ekosistemnya BRI,” tegasnya.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar