Namun begitu, situasi di lapangan justru terasa semakin panas belakangan ini. Pemerintah Yaman baru-baru ini melancarkan operasi militer di Provinsi Hadramaut. Sasaran mereka adalah kelompok separatis Dewan Transisi Selatan atau STC.
Menanggapi tekanan itu, STC malah mengambil langkah yang lebih jauh. Mereka mengumumkan akan memulai periode transisi selama dua tahun. Dalam kurun waktu itu, dewan ini berencana mengelola penuh wilayah selatan, yang nantinya akan diakhiri dengan referendum kemerdekaan. Langkah ini tentu saja memicu kekhawatiran baru.
Latar belakang konflik ini juga diperumit oleh dinamika regional. Arab Saudi sebelumnya sempat menuding Uni Emirat Arab memberikan dukungan kepada kelompok STC. Tudingan itu dibantah keras oleh UEA, yang kemudian memilih untuk menarik pasukannya dari Yaman. Situasi ini membuat upaya perdamaian yang akan digagas Saudi nantinya diharapkan bisa menjembatani bukan hanya perselisihan internal, tetapi juga ketegangan di antara sekutu-sekutu di kawasan.
Artikel Terkait
Meta Diapresiasi Patuhi Aturan Anak, Google Ditegur Pemerintah
Gubernur DKI Minta PLN Jamin Tak Ada Lagi Pemadaman Listrik Mendadak
Pariwisata Indonesia Tumbuh, Kunjungan Wisman Naik 13,37% pada Februari 2026
Aturan WFH ASN Berlaku, Kantor Imigrasi Tetap Buka Penuh