Dari Limbah Gula Merah Bone, Dainichi Kuasai 90% Pasar Indonesia Timur

- Jumat, 10 April 2026 | 12:45 WIB
Dari Limbah Gula Merah Bone, Dainichi Kuasai 90% Pasar Indonesia Timur

Di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, melimpahnya gula merah kerap berakhir sia-sia. Bahan baku yang berharga itu banyak terbuang karena tak terserap pasar. Melihat kondisi itu di kampung halamannya, Muhammad Ridwan yang saat itu berusia 30 tahun, merasa prihatin. Tapi dari keprihatinan itu, justru lahir sebuah peluang besar.

Kini, lewat brand Dainichi, Ridwan tak hanya mengolah komoditas desa itu. Dia sukses mentransformasikannya menjadi produk bernilai tambah yang menguasai pasar Indonesia Timur. Produk gula aren cair dan bubuknya kini bahkan mulai merambah Jawa dan Sumatra, dengan mata tertuju ke pasar ekspor.

"Banyak sekali bahan baku gula tapi dibiarkan rusak karena tidak ada orang yang beli. Ini salah satu peluang,"

Ujar Ridwan saat berbincang di Makassar, Kamis lalu. Gagasan Dainichi ini sendiri lahir di 2019, dengan modal awal yang terhitung sederhana: sekitar Rp10 juta.

Awalnya, Ridwan cuma menyuplai gula merah ke gerai-gerai kopi di Makassar. Kebetulan sekali, tren es kopi susu gula aren sedang meletup sekitar tahun 2022. Langkah itu menjadi batu loncatan pertamanya.

Namun begitu, percepatan yang sesungguhnya justru datang dari dunia digital. Terpaksa beralih ke online karena pandemi, Ridwan memutuskan jualan di Shopee sejak 2020. Hasilnya? Luar biasa. Pertumbuhan tahunan usahanya melesat lebih dari 100%.

Angka-angka terbaru pun cukup mencengangkan. Cuma di kuartal pertama tahun ini, Dainichi sudah mengirimkan 5.000 sampai 6.000 paket lewat marketplace. Setiap harinya, rata-rata 100 hingga 200 paket keluar dari gudangnya. Kontribusi penjualan daring ini sekarang mencapai seperempat dari total omzet perusahaan.

Yang lebih fenomenal adalah pergeseran kekuatan pasar. Dulu, pemain besar dari Jawa menguasai 90% pasar Indonesia Timur. Kini, situasinya berbalik.

"Sekarang kondisinya berbalik, kami yang mendominasi 90% di Makassar dan Sulawesi," tegas Ridwan dengan nada bangga.

Jangkauan distribusinya sudah menjalar jauh: merangkul Papua, Kalimantan, hingga NTT. Untuk segmen coffee shop dan ritel di Sulawesi, pangsa pasarnya bahkan menyentuh 80-90%.

Di balik kesuksesan itu, ada proses produksi yang ketat. Setiap bulan, Dainichi mampu menghasilkan sekitar 5.000 botol gula aren dengan beragam varian: cair, bubuk, dan cube. Mereka menggandeng 500 mitra petani di Bone, Sinjai, dan Malino untuk menjaga stok bahan baku, terutama saat musim kemarau dimana air nira susah didapat.

Kualitas jadi perhatian utama. Pengawasan dilakukan ketat, mulai dari kebun petani hingga gudang penyimpanan. Salah satu kunci keunggulan produknya ada di kadar air.

"Tingkat kekeringan yang tinggi ini memastikan rasa yang lebih kuat (bold) dan tidak hambar (watery) saat dicampur dengan espresso," jelas Ridwan soal gula bubuknya yang dijaga kadar airnya di level 2%.

Ke depan, ambisi Ridwan makin besar. Ekspansi ke Jawa dan Sumatra sudah di depan mata. Dia juga berencana meluncurkan produk hilir, seperti Sarabba instan, untuk menggeser kebiasaan konsumsi gula aren dari sekadar di kafe ke ranah rumah tangga.

Dengan 36 karyawan yang kini dipekerjakan, skala usaha ini tak lagi main-main. Mereka bersiap meningkatkan status produksi dari rumahan ke pabrikasi tahun depan. Persiapan infrastruktur sedang dikebut.

"Potensi pasar lokal masih sangat besar, bahkan kafe-kafe besar di Jakarta semuanya menggunakan gula aren. Kami sedang bersiap untuk masuk ke pasar nasional secara lebih agresif," pungkasnya penuh keyakinan.

Dari bahan baku yang nyaris terbuang, kini jadi penguasa pasar. Perjalanan Ridwan dan Dainichi membuktikan, peluang kerap bersembunyi di balik masalah yang paling dekat dengan kita.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar