Ekonomi Hijau dan Digital Jadi Mesin Penggerak Baru, Target Akselerasi 2026

- Minggu, 07 Desember 2025 | 19:25 WIB
Ekonomi Hijau dan Digital Jadi Mesin Penggerak Baru, Target Akselerasi 2026

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto baru-baru ini membeberkan sejumlah mesin penggerak ekonomi baru. Targetnya, akselerasi penuh bakal digeber mulai tahun 2026 mendatang. Salah satu yang jadi andalan adalah ekonomi hijau, dengan sejumlah proyek raksasa yang sudah disiapkan.

Di antaranya, pembangunan Green Super Grid yang membentang hingga 70.000 kilometer. Lalu, ada potensi Carbon Capture and Storage (CCS) Indonesia yang disebut-sebut mencapai angka fantastis: 600 gigaton. Inisiatif Just Energy Transition Partnership (JETP) juga akan terus dilanjutkan, bahkan hingga KTT G20 di Afrika Selatan nanti. Tak ketinggalan, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) juga masuk dalam daftar prioritas.

Soal PLTSa ini, Danantara menargetkan tujuh proyek waste-to-energy bisa memasuki masa konstruksi awal di 2026. Nilai investasinya? Cukup besar, sekitar Rp2 triliun hingga Rp3 triliun untuk setiap PLTSa-nya. Di sisi lain, Indonesia juga dikabarkan telah menerima komitmen pendanaan lewat AZEC senilai USD500 juta. Lumayan untuk modal awal.

Selain hijau, mesin ekonomi lain yang digadang-gadang adalah digitalisasi. Menurut Airlangga, bisnis digital biasa diproyeksikan mencapai USD90 miliar di tahun 2024 dan melonjak jadi USD360 miliar pada 2030.

"Namun dengan Digital Economic Framework Agreement, ini akan meningkat dua kali lipat," ujarnya.

Ia menjelaskan lebih lanjut, ekonomi digital ASEAN di tahun 2030 diprediksi naik dari USD1 triliun menjadi USD2 triliun. "Artinya, ke Indonesia 40 persen, USD800 miliar akan bisa menggerakkan perekonomian secara eksponensial," tambah Airlangga dalam siaran persnya, Minggu (7/12/2025).

Digitalisasi ini bukan wacana semata. Buktinya, pemanfaatan QRIS di sektor keuangan digital kita sudah menjangkau 57 juta konsumen dan 39 juta pelaku usaha. Angkanya mencakup warung kecil hingga UMKM. Bahkan, QRIS sudah mulai dipakai di beberapa negara. Harapannya jelas, mendorong rupiah agar bisa "Go Global".

Tapi semua itu tentu butuh dukungan SDM. "Kita butuh talenta digital 12 juta sampai 2030," kata Airlangga.

Ia menyebut beberapa program seperti beasiswa talenta digital, AI talent factory, dan program magang nasional diharapkan bisa mengisi kekosongan itu. "Salah satunya diharapkan bisa masuk di sini dan tentu digitalisasi ini juga masuk di mainstream media," imbuhnya.

Pemerintah juga tak mau ketinggalan dalam mendorong ekosistem kendaraan listrik (EV), terutama industri baterainya. Mereka bahkan sudah membuka jalan menuju pengembangan industri semikonduktor. Berbagai insentif telah digulirkan, membuat industri EV dalam negeri semakin terbentuk dan kompetitif. Apalagi ditopang komitmen investasi dari sejumlah raksasa otomotif dunia.

Dan untuk 2026, ada arahan khusus dari Presiden terpilih. "Sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, Pemerintah tengah menyiapkan pengembangan Mobil Nasional beserta insentif pendukung guna memperkuat ekosistem industri otomotif dalam negeri," pungkas Airlangga.

Rencananya memang ambisius. Sekarang, tinggal eksekusinya saja yang dinanti.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar