Di sisi lain, Presiden tak lupa mengajak seluruh peserta berdoa untuk para korban. Musibah ini, baginya, adalah ujian sekaligus bukti nyata kemampuan Indonesia merespons keadaan darurat.
“Kita berkumpul di saat sebagian saudara-saudara kita di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sedang mengalami musibah. Tapi rakyat melihat reaksi pemerintah cepat. Kita sudah buktikan alat-alat negara segera hadir,” ujarnya.
Kemampuan merespons cepat ini, menurut Prabowo, bukanlah sesuatu yang instan. Ia menyinggung soal perencanaan jangka panjang dan keputusan pembelian alutsista yang dulu sempat menuai kritik. Bagi dia, posisi Indonesia di “Ring of Fire” menuntut kesiapan maksimal.
“Untuk apa Prabowo beli alutsista? Untuk apa beli helikopter banyak-banyak? Saudara-saudara, bangsa kita berada di Ring of Fire. Kita tidak bisa kalau ada bencana baru kita cari helikopter di toko. Tidak ada. Pemimpin harus berpikir ke depan,” tegasnya.
Rasa bangga juga ia sampaikan terhadap aparat dan tim darurat di lapangan yang bekerja tanpa henti.
“Kita adalah pemerintah yang bekerja untuk rakyat. Kita merencanakan untuk rakyat, dan kita berani mengambil keputusan untuk kepentingan rakyat,” kata Prabowo.
Pada akhirnya, bencana besar di Sumatera ini adalah duka bersama. Namun di baliknya, ada pengingat penting: Indonesia harus terus memperkuat kemandirian dan kesiapsiagaannya.
“Ini musibah, tapi di sisi lain menguji kita. Dan Alhamdulillah, kita kuat. Kita mengatasi masalah dengan diri kita sendiri,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Mentan Zulhas Pastikan Konflik Timur Tengah Tak Pengaruhi Ketahanan Pangan Nasional
Laba Bersih Bank Jago Melonjak 114% pada 2025, Didorong Pertumbuhan Nasabah
RUU Hak Cipta Usulkan Karya Jurnalistik Dilindungi Hak Eksklusif dan Royalti
Pemerintah Rencanakan Pagar Raksasa untuk Atasi Konflik Gajah-Manusia di Way Kambas