Bendera GAM Berkibar di Tengah Reruntuhan Gempa Aceh: Provokasi atau Sinyal Bahaya?

- Jumat, 02 Januari 2026 | 23:05 WIB
Bendera GAM Berkibar di Tengah Reruntuhan Gempa Aceh: Provokasi atau Sinyal Bahaya?

Gempa bumi kembali mengguncang Aceh. Di tengah reruntuhan dan duka yang masih menyelimuti, sebuah pemandangan lain justru menyita perhatian: bendera dengan lambang bulan bintang, simbol Gerakan Aceh Merdeka (GAM), berkibar di ruang publik. Kehadirannya terasa seperti tamparan. Bagi banyak orang, ini bukan sekadar kain, tapi pengingat akan masa lalu yang getir, yang muncul di saat yang paling tidak tepat.

Bayangkan saja. Psikologi masyarakat sedang rapuh. Mereka membutuhkan pelukan, solidaritas, dan kepastian bahwa negara ada di sana untuk mereka. Nah, dalam kondisi seperti inilah, simbol-simbol pemisahan diri itu tiba-tiba muncul. Menurut sejumlah saksi, suasana jadi makin runyam. Narasi tentang ketidakadilan dan pengabaian dengan mudahnya berembus, dipelintir untuk membangkitkan sentimen lama yang seharusnya sudah terkubur bersama MoU Helsinki.

Kalau dibiarkan, praktik seperti ini bahaya. Bukan cuma melukai rasa kemanusiaan, tapi juga berisiko menggerogoti fondasi perdamaian yang dibangun dengan susah payah. Makanya, pengibaran bendera itu mustahil bisa dilihat sebagai ekspresi budaya biasa. Maknanya politis dan ideologis. Menormalkannya sama saja dengan mengaburkan sejarah kelam dan membuka pintu bagi separatisme dengan baju baru.

Provokasi di Saat yang Paling Sulit

Duka seharusnya jadi ruang suci untuk saling menguatkan, bukan panggung untuk main politik. Rakyat Aceh yang sedang bergulat dengan kehilangan butuh bantuan nyata, bukan simbol-simbol yang memecah belah.

Memang, memanfaatkan penderitaan untuk kepentingan politik adalah pola lama. Erving Goffman, dalam kajiannya, menyebutnya strategi victimisasi.

Negara selalu digambarkan sebagai si penindas, sementara kelompok yang berseberangan diposisikan sebagai korban yang patut dikasihani. Relasi kuasa dibalik lewat narasi. Tujuannya jelas: merebut simpati dan legitimasi moral publik.

Caranya pun kini berubah. Kekerasan fisik bukan lagi satu-satunya alat. Pertarungan justru lebih sengit di ruang digital. Media sosial jadi medan tempur baru, tempat persepsi dibentuk dan dipelintir dalam hitungan menit. Konflik bergeser ke ranah simbolik, mengandalkan emosi dan narasi yang memanas.


Halaman:

Komentar