Data IDF: Lebih dari 50.000 Personel Militer Israel Pegang Kewarganegaraan Asing

- Senin, 16 Februari 2026 | 03:35 WIB
Data IDF: Lebih dari 50.000 Personel Militer Israel Pegang Kewarganegaraan Asing

TEL AVIV Data resmi yang baru dirilis Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengungkap fakta menarik: lebih dari 50.000 personel militernya ternyata memegang kewarganegaraan asing. Informasi ini keluar setelah desakan panjang dari kelompok advokasi transparansi, Hatzlacha, yang menuntut keterbukaan data publik.

Menurut laporan yang dimuat Yedioth Ahronoth, angka pastinya mencapai 50.632 tentara. Mereka punya paspor negara lain selain Israel. Mayoritas, sekitar 12.135 personel, adalah warga negara Amerika Serikat. Peringkat berikutnya diisi oleh Prancis dengan 6.127 tentara, dan Rusia mendekati angka 5.000.

Tak cuma itu. Ada juga lebih dari 3.000 personel yang berkewarganegaraan Jerman, dan jumlah yang hampir sama berasal dari Ukraina.

Di sisi lain, sejumlah negara lain juga punya porsi. Inggris, Rumania, Polandia, Ethiopia, dan Kanada masing-masing dipegang oleh sekitar 1.000 tentara. Sisanya tersebar di berbagai negara.

Yang lebih mencengangkan, kompleksitas status kewarganegaraan ini ternyata ada yang bertumpuk. Data menunjukkan 4.440 tentara memegang tiga paspor, termasuk Israel. Bahkan, 162 orang di antaranya punya empat kewarganegaraan sekaligus.

Perilisan data ini sendiri adalah yang pertama kali dilakukan IDF secara detail soal hal ini. Prosesnya tidak instan. Permintaan transparansi dari Hatzlacha sudah diajukan sejak Maret tahun lalu, hampir setahun yang lalu.

Sayangnya, IDF tidak memberikan klarifikasi apakah angka ini mencakup pasukan aktif, cadangan, atau campuran keduanya. Namun begitu, media Israel memperkirakan kekuatan tentara aktif saat ini sekitar 170.000 personel. Sementara pasukan cadangannya jauh lebih besar, berkisar antara 400.000 hingga 460.000 orang.

Laporan ini, meski hanya berupa angka, membuka percakapan baru tentang loyalitas, identitas, dan dinamika global di dalam tubuh militer Israel.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar