Pagi itu di GOR Pandan, Tapanuli Tengah, Nur Asia Pasaribu akhirnya bisa bernapas lega. Setelah berhari-hari terputus dari dunia luar, ia berhasil melihat wajah anaknya melalui layar ponsel. "Baru saya minta bantuan ke Tim SAR," kisahnya, suara terdengar haru. "Mereka yang mengasih jaringan, jadi saya bisa video call. Keluarga saya akhirnya tahu kalau saya selamat."
Bagi Nur dan ratusan pengungsi lain, momen sederhana itu berarti segalanya. Jaringan komunikasi yang pulih, meski sementara, telah mengembalikan sedikit rasa normal di tengah kekacauan pascabanjir.
Upaya pemerintah ternyata tak cuma fokus pada logistik. Di sisi lain, pemulihan koneksi menjadi prioritas lain yang tak kalah genting. Puluhan perangkat Starlink telah disebar ke titik-titik bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Tujuannya jelas: menjangkau wilayah-wilayah yang terisolasi parah, di mana akses jalan putus sama sekali dan listrik padam.
Nur, yang sempat kalang-kabut karena tak bisa mengabari sanak saudaranya di Sibolga saat bencana melanda Rabu pagi pekan lalu, kini bisa bersyukur. "Terima kasih sudah memberikan akses ini," ucapnya. "Agar kami bisa tahu keadaan keluarga masing-masing."
Namun begitu, rasa syukur itu beriringan dengan harapan akan pemulihan yang lebih cepat. Bantuan makanan dan obat-obatan memang sudah sampai, tapi tantangan selanjutnya justru lebih berat: membangun kembali rumah dan kehidupan yang porak-poranda.
Harapan itu ia sampaikan langsung, seolah-olah berbicara pada Presiden Prabowo Subianto. "Mohon maaf, Pak. Kami sudah terima bantuan, tetapi kami masih meminta bantuan karena banyak rumah masyarakat yang rusak," pintanya. "Mohon bantuannya, Pak, supaya masyarakat Tapanuli Tengah bisa kembali ke rumahnya. Dan akses, terutama listrik, supaya cepat dikondisikan."
Suara serupa terdengar dari pengungsi lain. Teti Boru Gultom, warga Desa Sigiring-giring, misalnya. Dengan nada yang penuh harap, ia berpesan agar kampung halamannya segera diperbaiki.
"Bersyukur kali, Pak. Masih ada lagi bantuan kayak gini," ujar Teti. "Tapi Pak Presiden, minta tolong kampung kami biar bisa lagi layak kami tempati, Pak. Semoga Bapak Presiden diberikan umur panjang, sehat."
Di balik layar ponsel yang kembali menyala, ada cerita panjang tentang rasa syukur sekaligus kecemasan. Komunikasi yang pulih telah menyambungkan kembali tali silaturahmi. Kini, yang ditunggu adalah tindakan nyata untuk menyambung kembali kehidupan mereka yang terputus.
Artikel Terkait
Harga Pertamax Turbo dan BBM Non-Subsidi Lainnya Naik, Pertalite dan Solar Tetap
MNC Group Akan Banding dan Pertimbangkan Laporkan Majelis Hakim Usai Kalah Gugatan CMNP
Roblox Bersiap Patuhi Aturan, Batas Usia Pengguna Minimal 16 Tahun
BSN Perkuat Layanan SiPA untuk Dongkrak Likuiditas dan Daya Saing Keuangan Syariah