Pagi itu di GOR Pandan, Tapanuli Tengah, Nur Asia Pasaribu akhirnya bisa bernapas lega. Setelah berhari-hari terputus dari dunia luar, ia berhasil melihat wajah anaknya melalui layar ponsel. "Baru saya minta bantuan ke Tim SAR," kisahnya, suara terdengar haru. "Mereka yang mengasih jaringan, jadi saya bisa video call. Keluarga saya akhirnya tahu kalau saya selamat."
Bagi Nur dan ratusan pengungsi lain, momen sederhana itu berarti segalanya. Jaringan komunikasi yang pulih, meski sementara, telah mengembalikan sedikit rasa normal di tengah kekacauan pascabanjir.
Upaya pemerintah ternyata tak cuma fokus pada logistik. Di sisi lain, pemulihan koneksi menjadi prioritas lain yang tak kalah genting. Puluhan perangkat Starlink telah disebar ke titik-titik bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Tujuannya jelas: menjangkau wilayah-wilayah yang terisolasi parah, di mana akses jalan putus sama sekali dan listrik padam.
Nur, yang sempat kalang-kabut karena tak bisa mengabari sanak saudaranya di Sibolga saat bencana melanda Rabu pagi pekan lalu, kini bisa bersyukur. "Terima kasih sudah memberikan akses ini," ucapnya. "Agar kami bisa tahu keadaan keluarga masing-masing."
Namun begitu, rasa syukur itu beriringan dengan harapan akan pemulihan yang lebih cepat. Bantuan makanan dan obat-obatan memang sudah sampai, tapi tantangan selanjutnya justru lebih berat: membangun kembali rumah dan kehidupan yang porak-poranda.
Artikel Terkait
Yayasan Gates Siapkan Rp150 Triliun, Tapi PHK 500 Karyawan Mengintai
Cipratan Air Banjir Picu Amuk, Warga Koja Berakhir dengan Luka di Wajah
Ekonomi Jerman Akhirnya Tumbuh Tipis, Tapi Beban Ekspor Masih Membelit
Ekspor Mobil Ramah Lingkungan Korsel Tembus Rp1.200 Triliun di Tengah Pergeseran Pasar