Perekonomian Australia ternyata lebih tangguh dari yang diperkirakan banyak orang. Data terbaru menunjukkan, pada tahun 2025 lalu, ekonomi Negeri Kanguru itu tumbuh hingga 2,6 persen. Angka ini, jujur saja, cukup mengejutkan karena melampaui proyeksi awal yang beredar.
Laporan yang dirilis Rabu (4/3/2026) ini mencatat laju pertumbuhan tercepat dalam kurun waktu hampir tiga tahun. Padahal, Bank Sentral Australia (RBA) sebelumnya cuma memperkirakan produk domestik bruto (PDB) akan naik sekitar 2,3 persen untuk periode yang sama. Ternyata, realitanya lebih baik.
Kalau dilihat per kuartal, pertumbuhannya juga solid. Di tiga bulan terakhir 2025, ekonominya menguat 0,8 persen. Tapi di balik berita bagus ini, ada cerita lain yang bikin para pengambil kebijakan mungkin agak kurang tidur.
Soalnya, inflasi ikut merangkak naik, dan kenaikannya lebih tinggi dari perkiraan di penghujung tahun. Kondisi inilah yang akhirnya memaksa RBA mengambil langkah tegas: menaikkan suku bunga pada bulan Februari. Tujuannya jelas, ingin meredam aktivitas ekonomi yang terlalu panas sekaligus menekan laju inflasi agar kembali ke jalurnya.
Nah, ke depannya gimana? Menurut sejumlah ekonom yang kami pantau, bank sentral tampaknya belum akan lengah. Mereka masih akan terus mewaspadai ancaman inflasi.
Bahkan, ada kemungkinan suku bunga akan dinaikkan lagi pada bulan Mei nanti. Situasinya memang dinamis, dan langkah RBA ke depan pasti akan terus diawasi ketat oleh pasar.
Artikel Terkait
Riset: Kenaikan Cukai Rokok Selama 10 Tahun Belum Kurangi Keterjangkauan
JK Buka Peluang Jalur Hukum Atas Tudingan Penistaan Agama
Personel UNIFIL Tewas dalam Serangan di Lebanon Selatan, Prancis Tuntut Pertanggungjawaban
Bappenas Soroti Ketergantungan Daerah pada Dana Pusat Capai 83 Persen