Harapan itu ia sampaikan langsung, seolah-olah berbicara pada Presiden Prabowo Subianto. "Mohon maaf, Pak. Kami sudah terima bantuan, tetapi kami masih meminta bantuan karena banyak rumah masyarakat yang rusak," pintanya. "Mohon bantuannya, Pak, supaya masyarakat Tapanuli Tengah bisa kembali ke rumahnya. Dan akses, terutama listrik, supaya cepat dikondisikan."
Suara serupa terdengar dari pengungsi lain. Teti Boru Gultom, warga Desa Sigiring-giring, misalnya. Dengan nada yang penuh harap, ia berpesan agar kampung halamannya segera diperbaiki.
"Bersyukur kali, Pak. Masih ada lagi bantuan kayak gini," ujar Teti. "Tapi Pak Presiden, minta tolong kampung kami biar bisa lagi layak kami tempati, Pak. Semoga Bapak Presiden diberikan umur panjang, sehat."
Di balik layar ponsel yang kembali menyala, ada cerita panjang tentang rasa syukur sekaligus kecemasan. Komunikasi yang pulih telah menyambungkan kembali tali silaturahmi. Kini, yang ditunggu adalah tindakan nyata untuk menyambung kembali kehidupan mereka yang terputus.
Artikel Terkait
Yayasan Gates Siapkan Rp150 Triliun, Tapi PHK 500 Karyawan Mengintai
Cipratan Air Banjir Picu Amuk, Warga Koja Berakhir dengan Luka di Wajah
Ekonomi Jerman Akhirnya Tumbuh Tipis, Tapi Beban Ekspor Masih Membelit
Ekspor Mobil Ramah Lingkungan Korsel Tembus Rp1.200 Triliun di Tengah Pergeseran Pasar