Pemerintah Norwegia ternyata punya cukup banyak saham di Bursa Efek Indonesia. Investasi mereka tersebar di puluhan emiten, meski porsinya rata-rata cuma sekitar satu persen saja. Data terbaru dari Kustodian Efek Indonesia (KSEI) per 4 Maret 2026 akhirnya mengungkap hal ini, setelah sebelumnya kepemilikan di bawah 5 persen tak terlihat publik.
Nah, dalam data KSEI, kepemilikan Norwegia ini masuk dalam kategori "OT" atau "Others". Kategori ini memang buat investor yang nggak bisa dimasukkan ke dalam klasifikasi biasa seperti asuransi, reksa dana, atau perusahaan.
Jadi, saham-saham apa saja yang dibeli oleh negara Skandinavia itu? Daftarnya cukup panjang, mencakup 24 emiten. Beberapa di antaranya adalah nama-nama besar yang sudah sangat familiar.
PT Panin Financial Tbk (PNLF) mereka pegang 474,83 juta saham atau setara 1,48%. Lalu ada PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) sebanyak 319,19 juta saham (1,93%). Untuk PT Timah Tbk (TINS), kepemilikannya 82,54 juta saham (1,11%).
Deretan lainnya termasuk PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) 82 juta saham (1,54%), PT Widodo Makmur Perkasa Tbk (WMPP) 335 juta saham (1,14%), dan PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) 236,96 juta saham (1,38%).
Portofolio mereka juga mencakup saham PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) dengan porsi cukup signifikan, 608,24 juta saham atau 3,03%. Kemudian PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA) 109,17 juta saham (1,49%), serta PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) 61,70 juta saham (1,67%).
Di sektor properti, ternyata Norwegia cukup aktif. Mereka pegang saham PT Sentul City Tbk (BKSL) yang jumlahnya besar, mencapai 1,94 miliar saham (1,16%). Lalu ada PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) 335,40 juta saham (1,58%), PT Ciputra Development Tbk (CTRA) 458,22 juta saham (2,47%), dan PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) 258 juta saham (1,24%). Jadi, setidaknya ada lima emiten properti dan real estat dalam daftar investasi mereka.
Tak ketinggalan sektor kesehatan. Raksasa farmasi PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) mereka miliki 607 juta saham (1,30%). Juga PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) sebanyak 337,69 juta saham (2,43%).
Untuk barang konsumen, pilihannya beragam. Mulai dari PT Mayora Indah Tbk (MYOR) 348,46 juta saham (1,56%), PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) 175,63 juta saham (1,06%), hingga PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) 368,60 juta saham (2,31%).
Masih ada beberapa lagi dalam daftar panjang itu. PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) 206,36 juta saham (2,68%). PT Essa Industries Indonesia Tbk (ESSA) 196,82 juta saham (1,14%). PT Vale Indonesia Tbk (INCO) 129,22 juta saham (1,23%).
Kemudian PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) 402 juta saham (1,20%), PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX) 45 juta saham (1,03%), dan PT Mastersystem Infotama Tbk (MSTI) 45,38 juta saham (1,45%).
Jadi begitulah. Ternyata pemerintah Norwegia punya ketertarikan yang luas terhadap pasar modal Indonesia. Investasinya merata, dari properti, kesehatan, sampai barang konsumsi sehari-hari. Menunjukkan kepercayaan dari jauh di sana terhadap prospek ekonomi kita.
(Nadya Kurnia)
Artikel Terkait
ShopeePay Luncurkan Kampanye Pasti Gratis, Bebaskan Biaya Admin Transfer dan Tarik Tunai
BPII Kurangi Modal Anak Usaha di Singapura Senilai Rp34,71 Miliar
Argentina Jadi Negara dengan Utang Terbesar ke IMF, Capai Rp680 Triliun
TOTO Bagikan Dividen Final Rp134 Miliar untuk Tahun Buku 2025