Di tengah gemerlap interaksi digital, banyak orang justru merasa semakin sendiri. Memiliki ratusan pengikut di media sosial, menerima like dan komentar setiap hari, namun saat layar ponsel meredup, keheningan terasa menyayat. Fenomena ini bukan sekadar perasaan, melainkan krisis kesehatan global yang oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) disebut sebagai ancaman serius.
Data WHO menunjukkan bahwa isolasi sosial dan kesepian berkepanjangan dapat meningkatkan risiko kematian dini hingga 26-32 persen, setara dengan merokok 15 batang sehari. Bahkan, gabungan data WHO dan PBB pada 2025 mencatat satu orang meninggal setiap 35 detik akibat dampak kesepian. Angka ini lebih tinggi daripada kematian akibat penyakit jantung atau kecelakaan.
Di Indonesia, survei Litbang Kompas pada Juni 2025 terhadap 512 responden menemukan bahwa hampir satu dari lima orang, atau 19,97 persen, merasa kesepian setidaknya sekali dalam sepekan. Sepertiga dari mereka mengalaminya hampir setiap hari. Yang mengejutkan, kelompok usia 13-17 tahun (20,9 persen) dan 18-29 tahun (17,4 persen) menjadi yang paling terdampak, bukan lansia yang tinggal sendiri. Generasi yang paling terhubung secara digital justru paling rentan merasa kesepian.
Paradoks Koneksi Digital
Penelitian mahasiswa Indonesia yang lolos Program Kreativitas Mahasiswa 2025 menemukan kaitan erat antara penggunaan media sosial berlebihan dengan rasa kesepian, insecure, dan masalah kesehatan mental. Judul penelitian itu pun menggambarkan fenomena tersebut: "Loneliness in the Crowd" kesepian di tengah keramaian.
Masalahnya bukan pada teknologi, melainkan cara kita menggunakannya. Media sosial dirancang untuk membuat kita terlihat terhubung like, komentar, reply, share tetapi interaksi itu dangkal. Kita tahu apa yang dimakan teman hari ini, tetapi tidak tahu apakah dia baik-baik saja. Kita tahu dia baru liburan ke Bali, tetapi tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan di tengah malam.
Data Reportal mencatat ada 5,25 miliar pengguna aktif media sosial hingga 2025, dari total 8,2 miliar penduduk bumi. Kita lebih terhubung dari sebelumnya, tetapi terhubung secara digital tidak sama dengan terhubung secara manusiawi.
Kota Besar dan Kesepian yang Tersembunyi
Ada dimensi lain yang jarang dibicarakan: tata kota yang justru memperparah kesepian. Tangerang dan Bekasi, misalnya, adalah dua kota dengan kerentanan kesepian tertinggi berdasarkan indeks yang mengukur struktur demografis, kepadatan penduduk, kualitas ruang publik, dan infrastruktur sosial. Orang-orang di sana berangkat pagi, pulang malam, tinggal di perumahan yang tidak mengenal tetangga, dan tidak punya waktu untuk interaksi sosial yang berarti.
Kita mungkin tinggal berdempetan dengan jutaan orang di apartemen, di kos, di perumahan padat tetapi tidak kenal satu pun nama tetangga sebelah kamar. Itu bukan masalah pribadi, melainkan masalah desain kota yang gagal memfasilitasi koneksi manusia.
Dampak Fisik dan Mental
Kesepian bukan hanya soal perasaan. Riset menunjukkan bahwa kesepian kronis dikaitkan dengan penurunan sistem imun, gangguan tidur, peningkatan risiko depresi dan kecemasan, hingga percepatan penurunan fungsi kognitif. Bagi generasi muda, dampaknya lebih akut karena masa ini adalah periode pembentukan identitas dan hubungan sosial yang krusial.
Kisah Una Tata, mahasiswi psikologi di Surabaya berusia 23 tahun yang ditulis Kompas, menggambarkan betapa nyatanya dampak itu. Kesepian yang dirasakannya sejak SMA semakin parah saat kuliah hingga muncul pikiran untuk mengakhiri hidup. Ini bukan kisah ekstrem yang jarang terjadi, melainkan realita yang dialami diam-diam oleh banyak anak muda di sekitar kita.
Mencari Jalan Keluar
Solusinya bukan sekadar "perbanyak teman" atau "kurangi main HP". Terlalu simplistis untuk masalah yang kompleks ini. Yang dibutuhkan adalah koneksi yang berkualitas, bukan kuantitas. Satu percakapan jujur yang benar-benar didengarkan jauh lebih berharga dari seratus like di Instagram. Komunitas yang hadir secara fisik klub buku, komunitas olahraga, kelompok hobi, kegiatan sosial di lingkungan terbukti secara konsisten menjadi penawar kesepian yang paling efektif.
Di level kebijakan, WHO sudah mendesak negara-negara untuk menyediakan ruang sosial yang inklusif dan menganggap kesehatan mental sebagai tanggung jawab bersama, bukan urusan pribadi masing-masing. Indonesia perlu mengambil langkah konkret: ruang publik yang ramah, program komunitas yang difasilitasi negara, dan kesadaran bahwa infrastruktur sosial sama pentingnya dengan infrastruktur fisik.
Sambil menunggu sistem berubah, ada satu hal kecil yang bisa dimulai hari ini: cek teman yang sudah lama tidak kamu hubungi. Bukan lewat story reaction. Telepon. Tanya kabarnya yang sebenarnya. Kadang, satu percakapan nyata bisa jadi penyelamat yang tidak pernah kita duga.
Artikel Terkait
Anger Economy: Ketika Kemarahan Menjadi Komoditas Media Sosial
Psikolog Ingatkan Etika Bermedia Sosial bagi Tenaga Kesehatan
Sarwendah Bantah Anak Dibully di Sekolah, Klarifikasi soal Perundungan di Media Sosial
Empati Dokter Diuji di Tengah Viral Keluhan Pasien