Kontroversi Pidato Prabowo: Strategi atau Kekeliruan?

- Selasa, 18 Agustus 2026 | 06:40 WIB
Kontroversi Pidato Prabowo: Strategi atau Kekeliruan?

Sebuah unggahan di media sosial memicu perdebatan sengit setelah menyebut bahwa pernyataan kontroversial Presiden Prabowo Subianto dalam pidato, seperti soal upah kupas bawang Rp700 ribu per kilogram, bukanlah kekeliruan melainkan strategi yang disengaja. Narasi ini menyebut bahwa tindakan tersebut merupakan bagian dari taktik untuk menarik perhatian publik dan menguasai pemberitaan.

Dalam unggahan tersebut, sejumlah poin diajukan untuk mendukung klaim itu. Disebutkan bahwa setiap pernyataan Prabowo yang viral menjadi headline dan memberikan pemasaran gratis. Pendukung narasi ini juga berargumen bahwa seseorang sepintar Prabowo tidak mungkin tidak memahami data, sehingga jika kesalahan itu diulang-ulang, itu adalah strategi, bukan kesalahan sejati.

Analogi yang digunakan pun beragam, mulai dari taktik militer feint attack serangan pura-pura untuk mengukur reaksi lawan hingga gaya kontroversial ala mantan Presiden AS Donald Trump. Jika Trump menggunakan media sosial, Prabowo disebut melakukannya di atas podium.

Namun, klaim ini menuai reaksi keras dari warganet. Banyak yang menilai pembelaan tersebut berlebihan dan tidak masuk akal. Seorang pengguna Twitter dengan akun @An_Kurniawan78 menulis, "Wkwkwk. Kalo slaah berulang2 ya nama ga TOLOL. Kok bisa malah jadi strategi sih anjiiiing?????" Unggahan ini pun mendapat banyak tanggapan serupa.

Pengguna lain, @muarateduh, menyindir, "Lah bloon amat. Salah diulang ulang artinya emang ngawur. Klo sekali dua kali makesense keserempet lidah. Ini tiap ngomong ngawur." Sementara itu, @adejoon mempertanyakan efektivitas strategi tersebut, "Lha makin hari yg ada orang muak ama dia dan program2 nya, jadi lagi marketingin apa? Wkwk."

Kritik juga datang dari @Ceyung2 yang menulis, "Sudah tidak bisa dicebokin lagi. Jadi dibilang bagian dari strategi. Supaya tidak kelihatan bego."

Perdebatan ini mencerminkan polarisasi opini publik terhadap gaya komunikasi Presiden Prabowo. Sebagian menilai langkahnya sebagai cara cerdas untuk mengendalikan narasi, sementara yang lain menganggapnya sebagai kekeliruan yang berulang dan tidak dapat ditoleransi. Hingga berita ini diturunkan, tidak ada tanggapan resmi dari pihak Istana mengenai tuduhan maupun pembelaan yang beredar di media sosial.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags