Negara dalam Cengkeraman: Imperium Uang Diprediksi Kian Kuasai Indonesia di 2026

- Sabtu, 03 Januari 2026 | 14:00 WIB
Negara dalam Cengkeraman: Imperium Uang Diprediksi Kian Kuasai Indonesia di 2026

Kritik Tajam di Tengah Gerimis: "Iblis Imperium Uang" Diprediksi Kian Kuasai 2026

Suasana Jakarta pada Kamis malam itu kelam, diguyur gerimis. Tapi di sebuah forum refleksi, justru api kritik yang berkobar. Sutoyo Abadi, Koordinator Kajian Politik Merah Putih, tak membawa optimisme tahun baru. Sebaliknya, ia memperingatkan sesuatu yang jauh lebih suram: menguatnya "Iblis Imperium Uang" di tahun 2026.

Acara yang bertepatan dengan malam Jumat itu dihadiri oleh para mahasiswa, yang ia sapa sebagai "pendekar-pendekar kecil". Topiknya berat. Alih-alih membahas resolusi, diskusi malah penuh kecemasan. Ancaman utamanya jelas: kekuatan modal yang mereka yakini telah menjadi otoritas tertinggi negeri ini.

"Imperium uang itu tumbuh dari hasil penjarahan sumber daya alam bangsa sendiri," ujar Sutoyo, dalam keterangan yang dikeluarkan Sabtu (3/1/2025).

Ia melanjutkan dengan nada tegas, "Ia kemudian mengendalikan pejabat, aparat, hingga arah kebijakan negara."

Menurutnya, negara kini ada dalam genggaman semacam politbiro oligarki. Kedaulatan rakyat? Hanya jadi slogan. Kebijakan strategis lebih sering ditentukan oleh kepentingan segelintir pemilik modal yang tak terlihat.

Buktinya, kata Sutoyo, bertebaran. Ia menyebut kasus pagar laut, juga kawasan megah seperti PIK 1 dan PIK 2 yang mirip "negara dalam negara". Lalu ada persoalan tenaga kerja asing ilegal di Morowali, belum lagi rentetan bencana ekologis semacam banjir bandang di Sumatera. Semua ini, baginya, adalah tanda nyata negara tak berdaya.

"Para pelaku kejahatan lingkungan itu bertindak seperti raja-raja kecil," tegasnya.

"Mereka bebas merusak, menenggelamkan wilayah, bahkan menghancurkan kehidupan rakyat tanpa tersentuh hukum."

Tak cuma alam yang jadi korban. Sutoyo melihat manusia Indonesia pun diperbudak oleh sistem ini, dengan menggunakan alat dan legitimasi negara itu sendiri. Aparat keamanan, dalam pandangannya, direduksi jadi sekadar instrumen kekuasaan. Dipelihara seperlunya hanya untuk melanggengkan kepentingan modal besar.

"Negara dikendalikan untuk merampas tanah rakyat, membabat hutan, dan mengeruk kekayaan alam," katanya. Tujuannya cuma satu: menimbun uang bagi segelintir elite.

Lebih mengerikan lagi, ia menuding kemiskinan dan kebodohan sengaja dipelihara. Masyarakat yang lemah, kata dia, takkan mampu melawan. Bahkan peran ulama pun dinilainya mengalami degradasi.

"Sebagian ulama telah dibutakan oleh sihir kekuasaan dan uang," ucap Sutoyo tanpa tedeng aling-aling.

"Mereka dijadikan alat legitimasi, robot yang memproduksi pembenaran atas wajah bengis imperium."

Dan ancaman itu terus berevolusi. Imperium uang, dalam analisanya, kini telah bermetamorfosis menjadi sesuatu yang lebih berbahaya: imperium senjata. Kekuatan yang mampu melumpuhkan bangsa secara sistematis, hingga ke akar-akarnya.

"Ia mengeksploitasi manusia, memanipulasi nurani, dan mengubah manusia menjadi iblis bagi sesamanya," pungkasnya.

Pernyataan Sutoyo ini bukan sekadar kritik biasa. Ini adalah refleksi getir sekaligus peringatan keras. Sebuah sinyal dari kalangan mahasiswa dan pengamat bahwa oligarki ekonomi dinilai kian menggerus kedaulatan. Masa depan demokrasi Indonesia di 2026, menurut mereka, berada di ujung tanduk.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar