Tak cuma alam yang jadi korban. Sutoyo melihat manusia Indonesia pun diperbudak oleh sistem ini, dengan menggunakan alat dan legitimasi negara itu sendiri. Aparat keamanan, dalam pandangannya, direduksi jadi sekadar instrumen kekuasaan. Dipelihara seperlunya hanya untuk melanggengkan kepentingan modal besar.
"Negara dikendalikan untuk merampas tanah rakyat, membabat hutan, dan mengeruk kekayaan alam," katanya. Tujuannya cuma satu: menimbun uang bagi segelintir elite.
Lebih mengerikan lagi, ia menuding kemiskinan dan kebodohan sengaja dipelihara. Masyarakat yang lemah, kata dia, takkan mampu melawan. Bahkan peran ulama pun dinilainya mengalami degradasi.
"Sebagian ulama telah dibutakan oleh sihir kekuasaan dan uang," ucap Sutoyo tanpa tedeng aling-aling.
"Mereka dijadikan alat legitimasi, robot yang memproduksi pembenaran atas wajah bengis imperium."
Dan ancaman itu terus berevolusi. Imperium uang, dalam analisanya, kini telah bermetamorfosis menjadi sesuatu yang lebih berbahaya: imperium senjata. Kekuatan yang mampu melumpuhkan bangsa secara sistematis, hingga ke akar-akarnya.
"Ia mengeksploitasi manusia, memanipulasi nurani, dan mengubah manusia menjadi iblis bagi sesamanya," pungkasnya.
Pernyataan Sutoyo ini bukan sekadar kritik biasa. Ini adalah refleksi getir sekaligus peringatan keras. Sebuah sinyal dari kalangan mahasiswa dan pengamat bahwa oligarki ekonomi dinilai kian menggerus kedaulatan. Masa depan demokrasi Indonesia di 2026, menurut mereka, berada di ujung tanduk.
Artikel Terkait
Pemerintah Bantah Isu Arahan Penanaman Sawit di Papua
Pengacara Nadiem Klaim Chromebook Hematkan Rp 1,2 Triliun, Desak Hakim Batalkan Dakwaan
Serbuan Lalat di Kintamani: Dilema Pupuk Mentah dan Pariwisata Bali
Nadiem Bongkar Kejanggalan Dakwaan: Logika Ngawur, Chromebook Justru Hemat Rp 1,2 Triliun