Pernah nggak sih, bertemu orang yang selalu haus perhatian? Setiap obrolan, setiap situasi, rasanya selalu berputar kembali ke dirinya. Memang, diakui atau tidak, kita semua butuh diakui. Tapi kalau sudah berlebihan, dampaknya bisa nggak bagus, baik buat dirinya sendiri maupun buat orang di sekitarnya.
Nah, soal penyebabnya, banyak faktor yang bisa bikin seseorang jadi kayak gitu. Seringnya sih, ini bermula dari masalah psikologis. Mungkin ada luka dari masa lalu, atau rasa percaya diri yang sangat rendah. Makanya, meski kadang bikin capek, cobalah untuk nggak langsung bereaksi negatif. Mereka butuh pertolongan, bukan penolakan.
Lalu, gimana kalau ternyata sahabat atau teman dekat kitalah yang punya kecenderungan seperti ini? Menghadapinya memang butuh trik khusus, biar energi kita nggak terkuras habis.
Pertama, coba untuk tegas menetapkan batasan. Kamu bisa bersikap baik tanpa harus selalu tersedia 24 jam. Katakan dengan halus bahwa kamu punya urusan dan komitmen lain. Ini penting, lho, agar hubungan nggak jadi searah.
Selanjutnya, cobalah alihkan percakapan. Ketika dia mulai lagi-lagi membicarakan dirinya, coba tanyakan hal lain tentang topik yang lebih umum. “Eh, ngomong-ngomong soal liburan, kamu dengar kabar rencana road trip bareng teman-teman kantor?” Cara ini bisa menggeser fokus tanpa terkesan kasar.
Di sisi lain, berikan pujian yang tulus saat dia melakukan sesuatu yang genuinely baik. Terkadang, rasa haus perhatian itu muncul karena kurangnya apresiasi. Dengan memberi pengakuan di momen yang tepat, kamu bisa membantu memenuhi kebutuhannya dengan cara yang lebih sehat.
Tapi ingat, jangan sampai terjebak dalam drama. Orang yang haus perhatian kadang suka menciptakan konflik atau kisah-kisah dramatis hanya untuk jadi pusat pembicaraan. Menurut pengalaman beberapa orang, sikap terbaik adalah tidak ikut terbawa emosi. Tetap tenang dan bersikap netral.
Yang terpenting, jaga dirimu sendiri. Kalau sudah merasa terlalu lelah secara emosional, nggak ada salahnya untuk mengambil jeda. Berteman itu memang harus saling mengisi, bukan sampai menguras habis.
Pada akhirnya, menghadapi teman yang seperti ini butuh kesabaran ekstra. Namun begitu, dengan cara yang tepat, kamu bisa tetap menjaga pertemanan tanpa harus mengorbankan kesejahteraan mentalmu sendiri.
Artikel Terkait
Sembilan Kios Hangus Terbakar di Pasar Ciroyom Bandung, Tak Ada Korban Jiwa
Ratusan Pegawai Indomaret Demo Tolak Penggantian Upah Lembur Hari Libur Nasional dengan Cuti Tambahan
Gajah Tunggal Bagikan Dividen Rp278,78 Miliar, Laba Bersih Tumbuh 4,7 Persen di 2025
BMKG: Cuaca Jakarta Saat Idul Adha Cerah Berawan, Hujan Ringan di Malam Hari