Emas Berpeluang Tembus Rp2,5 Juta, Didorong Gejolak Politik AS dan Perang

- Minggu, 07 Desember 2025 | 16:25 WIB
Emas Berpeluang Tembus Rp2,5 Juta, Didorong Gejolak Politik AS dan Perang

Meski ditutup melemah di angka USD4.196 per troy ounce pada akhir pekan lalu, prospek emas dunia justru terlihat cerah. Bahkan, ada potensi kuat harganya melesat hingga menyentuh level USD4.400 menjelang tutup tahun 2025 nanti. Di pasar domestik, imbasnya bisa dirasakan: logam mulia diproyeksi kembali ke zona Rp2,5 juta per gram.

Lalu, apa yang mendorong optimisme ini di tengah penurunan? Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, punya pandangannya.

“Nah ini yang ketegangan-ketegangan inilah yang membuat saya masih optimistis bahwa harga emas dunia sampai akhir tahun akan kembali mengalami penguatan,” ujarnya dalam riset yang dirilis Minggu (7/12/2025).

Menurut Ibrahim, pergerakan pekan depan akan berfluktuasi, namun dengan rentang support dan resistance yang cukup lebar. Untuk emas dunia, level resistance pertama ada di USD4.328, lalu USD4.271. Sementara supportnya diperkirakan di USD4.126 dan USD4.050.

Di pasar lokal, logam mulia diperkirakan menemui resisten di Rp2.500.000 dan Rp2.430.000 per gram. Di sisi lain, level penopangnya berada di kisaran Rp2.370.000 dan Rp2.280.000.

Fluktuasi yang bullish ini, kata Ibrahim, digerakkan oleh tiga faktor kunci. Yang paling menyita perhatian adalah situasi politik dalam negeri Amerika Serikat yang memanas. Isu pergantian pucuk pimpinan The Fed jadi sorotan.

Nama Kevin Hassett, penasihat ekonomi Gedung Putih sekaligus pendukung setia Donald Trump, mencuat. Beredar kabar ia bakal diangkat sebagai Gubernur The Fed di awal 2026. Situasi ini jelas menimbulkan ketidakpastian.

“Eksekutif begitu dominan ingin menguasai di bank sentral yang kita lihat bahwa bank sentral itu adalah independen. Nah sehingga ini pun juga akan membuat memanasnya perpolitikan di Amerika,” jelas Ibrahim.

Dukungan Trump untuk menurunkan suku bunga The Fed kembali ke level sangat rendah, 0-0,25 persen, semakin menguatkan narasi ini. Faktor kedua datang dari ekspektasi pasar. Sebagian besar ekonom, hampir 88 persen, memprediksi The Fed akan memangkas suku bunga 25 basis poin pada pertemuan Desember ini. Namun, yang lebih ditunggu adalah seberapa dalam penurunan yang akan dilakukan sepanjang 2026.

Tak kalah penting, sentimen safe haven emas kian menguat akibat eskalasi ketegangan di berbagai belahan dunia. Di Eropa, konflik Rusia-Ukraina kembali memanas setelah serangan masif ke Kyiv. Putin bahkan menyatakan kesiapan Rusia jika NATO memilih berperang, sebuah pernyataan yang mengindikasikan ketegangan geopolitik yang makin runyam jelang akhir tahun.

Di Asia Timur, latihan militer besar-besaran Tiongkok di perairan dekat Taiwan memicu kekhawatiran, terutama dengan pernyataan Jepang yang siap membantu Taiwan jika terjadi agresi. Sementara itu, di Amerika Latin, situasi juga tidak stabil menyusul isu penguasaan wilayah Venezuela, produsen minyak mentah penting dengan produksi 1,1 juta barel per hari.

Jadi, meski sempat tertekan, emas justru menemukan banyak angin peluang dari berbagai ketegangan global ini. Pekan-pekan ke depan dipastikan akan menarik untuk disimak.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler