Pasar saham Indonesia dibuka dengan sentuhan merah pekat di awal pekan ini. IHSG terperosok tajam, bahkan sempat menembus batas psikologis 7.000, di tengah awan ketidakpastian yang menggantung. Investor tampaknya sedang menahan napas, menunggu bagaimana situasi global berkembang sambil bersiap menyambut libur panjang Nyepi dan Lebaran yang akan dimulai Rabu depan.
Data dari BEI menunjukkan betapa gawatnya situasi pagi ini. Indeks sempat anjlok 3,08% ke level 6.917,32 sebelum sedikit memulihkan diri. Meski begitu, posisinya masih terpuruk di zona merah dengan penurunan 2,33%. Transaksi harian pun terdampak, dengan nilai yang tercatat sekitar Rp3,24 triliun. Mayoritas saham tepatnya 586 emiten terkapar, sementara yang mampu bangkit hanya 91 saham. Ini sudah hari keempat IHSG melemah, dan dalam sebulan terakhir, kerugiannya sudah mencapai lebih dari 15%.
Menurut sejumlah analis, sikap wait and see investor memang menguat. Libur panjang selalu jadi momen dimana aktivitas melambat, apalagi kali ini dibayangi sentimen global yang suram.
Dan sentimen itu datang terutama dari Timur Tengah. Konflik yang sudah berjalan 16 hari belum ada tanda-tanda mereda. Malah, eskalasi justru meningkat. AS dikabarkan menyerang target Iran di Kharg Island, sementara Iran membalas dengan memperluas serangan ke negara-negara Teluk. Situasi ini bikin pasar khawatir, terutama soal stabilitas pasokan minyak dunia.
Kekhawatiran itu langsung terbaca di harga komoditas. Minyak mentah Brent melesat sekitar 10% dalam seminggu dan kini bertengger di atas USD103 per barel. Ini pertama kalinya harga minyak menembus level USD100 sejak 2022. Batu bara juga ikut naik, dengan indeks ICI4 menyentuh USD60 per ton.
Namun begitu, tidak semua safe haven laku. Emas justru terkoreksi tipis ke posisi sekitar USD5.019 per troy ons, didorong oleh penguatan dolar AS yang sedang terjadi.
Kembali ke IHSG, dari kacamata teknikal, kondisi memang terlihat rentan. Pola candlestick membentuk lower high dan lower low yang mengkonfirmasi tren turun. Support terdekat sekarang ada di kisaran 6.890-6.900. Area ini krusial.
"Kalau level itu jebol, tekanan jual bisa berlanjut lebih dalam," begitu kata seorang analis. Target koreksi berikutnya mengarah ke area 6.000 bahkan 5.936.
Meski suram, peluang rebound kecil tetap ada selama IHSG bisa bertahan di atas 6.850. Tapi jangan terlalu berharap. Selama indeks masih di bawah 7.670, setiap kenaikan yang muncul kemungkinan besar cuma technical rebound belaka selingan dalam tren bearish yang lebih besar. Pasar masih menunggu katalis positif untuk benar-benar berbalik arah.
Disclaimer: Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan Anda. Lakukan analisis mendalam sebelum bertindak.
Artikel Terkait
CDIA Raup Pendapatan USD41,2 Juta di Kuartal I-2026, Naik 19 Persen
Pendapatan Cinema XXI Tembus Rp1,1 Triliun di Kuartal I-2026, Naik 18,2 Persen
Saham BRI Tertekan, Dirut Sebut Fundamental Solid dan Imbau Investor Fokus pada Dividen
Pemerintah Targetkan Program B50 Serap 1,9 Juta Tenaga Kerja pada 2026