Harapan Baru di Tangan Putra Daerah
Klasemen Liga 1 masih belum ramah untuk PSM Makassar. Tapi di tengah situasi genting itu, klub kebanggaan Sulawesi Selatan ini justru memilih jalan lain: menyerahkan kendali pada dua putra daerah. Ahmad Amiruddin dan Zulkifli Syukur kini yang memegang tampuk kepelatihan, membawa beban harapan yang tak ringan.
Memang, hasil imbang 3-3 melawan Malut United FC pekan lalu belum menggeser posisi mereka dari zona rawan. Tapi setidaknya, laga dramatis itu menunjukkan satu hal: semangat juang tim belum padam. Poin curian itu jadi secercah cahaya di tengah tekanan yang kian mencekam.
Dan di saat seperti inilah, dukungan datang dari sosok yang tahu betul seluk-beluk klub ini.
Syamsuddin Umar, mantan pelatih yang dua kali membawa PSM ke puncak, justru melihat peluang dalam keputusan ini. Bagi dia, kombinasi Amiruddin dan Zulkifli punya modal yang cukup. Amiruddin pernah jadi bagian dari staf kepelatihan Borneo FC. Sementara Zulkifli? Pengalamannya di lapangan hijau, termasuk membela Timnas Indonesia, tak perlu diragukan lagi.
Tapi yang paling penting, menurut Syamsuddin, bukan cuma soal CV mereka.
"Ada nilai siri' yang melekat pada mereka sebagai putra daerah," ujarnya, merujuk pada konsep harga diri dalam budaya Bugis-Makassar. Dengan semangat itu, ia yakin keduanya akan berjuang mati-matian. Targetnya pun tak sekadar selamat. "Masih mungkin untuk finis di papan tengah," tambahnya penuh keyakinan.
Optimismenya ini punya dasar. Syamsuddin sendiri dulu memimpin PSM jadi juara saat usianya masih muda, sekitar 34-35 tahun. Usia yang bahkan lebih muda dari banyak pelatih sekarang. Pengalaman pribadinya itu jadi bukti: usia muda bukan halangan. Yang dibutuhkan adalah nyali, kemampuan baca permainan, dan tentu saja, dukungan penuh.
Di sisi lain, sejarah panjang klub ini juga jadi pertimbangan. Berdiri sejak 1915, PSM adalah salah satu institusi sepak bola tertua di negeri ini. Prestasinya tak main-main: tujuh kali juara kompetisi tertinggi, juara Piala Indonesia, dan seabrek trofi domestik lain. Mereka, bersama Persija dan Persib, adalah klub yang belum pernah terdegradasi. Catatan itulah yang justru membuat tekanan di musim sulit seperti sekarang terasa lebih berat.
Namun begitu, PSM bukan cuma sekadar klub bagi warga Sulsel. Ia lebih dari itu.
"PSM adalah simbol kebanggaan dan pemersatu," kata Syamsuddin. Kemenangan tim membawa kebahagiaan kolektif. Kekalahan? Rasa kecewa yang sama dalamnya. Bagi banyak orang di sana, klub ini sudah menyatu dengan identitas dan harga diri mereka. Bukan cuma tontonan akhir pekan.
Kini, di pundak dua pelatih muda itulah harapan besar itu digantungkan. Tugas mereka jelas tidak mudah: mengangkat tradisi kejayaan sekaligus mengarungi krisis yang ada.
Tapi dengan dukungan dari legenda seperti Syamsuddin Umar, dan dengan semangat siri' na pacce yang diusung, ada keyakinan bahwa PSM akan bertahan. Sejarah sudah membuktikan, jiwa juang seringkali lebih penting dari segalanya. Dan jika jiwa itu masih hidup, PSM Makassar akan tetap tegak berdiri di papan atas sepak bola Indonesia.
Artikel Terkait
Pedrosa Prediksi Duel Bezzecchi vs Marquez di MotoGP 2026, Martin Jadi Kuda Hitam
Bruno Moreira Diuji di Empat Laga Sisa: Kapten Persebaya Harus Buktikan Diri di Tengah Standar Tinggi Bernardo Tavares
Chelsea Patok Harga €70 Juta untuk Nicolas Jackson, Bayern Munich Tak Minat Perpanjang Pinjaman
MilkLife Festival SenengMinton 2026 Digelar di Purwokerto, 480 Siswa SD Antusias Ikuti Lomba Bulu Tangkis