Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia resmi memasuki fase aging population, dengan proporsi penduduk lanjut usia (lansia) mencapai 11,97 persen dari total penduduk. Angka ini berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 yang baru saja dirilis.
Sekretaris Kementerian/Sekretaris Utama Kemendukbangga/BKKBN, Budi Setiyono, menyebut ini adalah pertama kalinya Indonesia secara resmi masuk dalam kategori tersebut. Sebelumnya, pada 2020, populasi lansia berusia di atas 60 tahun hanya mencapai 9,93 persen. Angka ini kemudian berfluktuasi: naik menjadi 10,81 persen pada 2021, turun sedikit ke 10,48 persen pada 2022, lalu kembali naik ke 11,75 persen pada 2023, dan mencapai puncaknya 12 persen pada 2024.
Data ini diperkuat oleh hasil Pemutakhiran Pendataan Keluarga (PK) 2025 dari Kemendukbangga/BKKBN, yang mencatat sekitar 25,17 juta keluarga atau 33,98 persen dari seluruh keluarga di Indonesia memiliki setidaknya satu anggota lansia.
BPS menyebut perubahan struktur umur penduduk ini juga ditandai dengan melambatnya laju pertumbuhan penduduk. Angka pertumbuhan penduduk kini hanya 1,08 persen per tahun, sementara Total Fertility Rate (TFR) turun menjadi 2,13 anak per perempuan, mendekati tingkat penggantian. Rasio ketergantungan juga meningkat menjadi 45,05 persen.
Menariknya, laju pertumbuhan penduduk terendah terjadi di Jakarta, dengan TFR hanya 1,79 persen. Sebaliknya, Papua Pegunungan mencatat laju tertinggi, mencapai 2,78 persen.
Meski demikian, dari segi proporsi, jumlah lansia masih lebih kecil dibandingkan generasi produktif. Berdasarkan laporan BPS, lansia berusia 60-64 tahun mencapai 12,78 juta orang, usia 65-69 tahun sebanyak 9,66 juta, usia 70-74 tahun berjumlah 6,68 juta, dan lansia di atas 75 tahun mencapai 6,37 juta. Total lansia berusia 60 tahun ke atas diperkirakan mencapai 35,5 juta orang.
Perubahan struktur penduduk ini membuka peluang meningkatnya fenomena sandwich generation, ketika kelompok usia produktif harus membiayai dan merawat dua generasi sekaligus: anak-anak yang masih tanggungan dan orang tua yang sudah lanjut usia.
Budi Setiyono menjelaskan, dalam perspektif Life Cycle Hypothesis yang dikembangkan oleh ekonom peraih Nobel Franco Modigliani, seseorang idealnya membiayai masa tuanya melalui tabungan dan aset yang dikumpulkan selama usia produktif. Namun, di negara berkembang seperti Indonesia, cakupan sistem pensiun belum menjangkau seluruh pekerja, terutama mereka yang bekerja di sektor informal.
Artikel Terkait
Desil dalam DTSEN: Pemeringkatan Relatif, Bukan Ukuran Mutlak Kesejahteraan
MPP dan Lansia PSTW Budi Mulia 4 Rayakan HUT ke-81 RI dengan Lomba dan Kegembiraan
Lansia Pemilik Warung Mi di Singapura Dibanting Pengunjung Usai Elus Kepala Anak
BPS: 6 Persen Anak Indonesia Belum Punya Akta Kelahiran, Terbanyak di Papua dan NTT