Badan Pusat Statistik China melaporkan laba perusahaan industri besar tumbuh 18,7 persen secara tahunan pada paruh pertama 2026. Angka ini mencakup perusahaan dengan pendapatan minimal 20 juta yuan atau setara Rp53 miliar.
Secara kumulatif, laba gabungan perusahaan-perusahaan tersebut mencapai 3,95 triliun yuan (sekitar Rp10.500 triliun) pada Januari–Juni. Namun, laju pertumbuhan pada Juni saja tercatat 15,1 persen, melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 21,1 persen.
Ekspor yang kuat menjadi penopang utama di tengah lemahnya permintaan domestik. Kondisi ini menyoroti ketidakmerataan pemulihan ekonomi China, meskipun pemerintah telah berupaya mendorong konsumsi.
Konsumsi domestik yang lesu dan sektor properti yang belum pulih terus membebani pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Produk domestik bruto (PDB) hanya tumbuh 4,3 persen pada kuartal II-2026, menjadi laju terlemah dalam tiga tahun terakhir.
Pemerintah China sendiri telah menetapkan target pertumbuhan PDB sebesar 4,5–5,0 persen untuk tahun 2026, lebih rendah dari capaian tahun sebelumnya.
Artikel Terkait
Indonesia-China Perluas Kerja Sama Pertahanan, Pabrik Rudal Segera Dibangun
Bareskrim Bongkar Praktik Pengantin Pesanan ke China, Korban Dijanjikan Rp 10 Juta per Bulan
Tingkat Pengangguran Anak Muda China Melonjak ke 17,9 Persen, Terberat dalam Sejarah
Saham Unitree Robotics Melonjak 600 Persen Usai IPO di Shanghai