Tingkat pengangguran kelompok usia 16 hingga 24 tahun di China melonjak ke 17,9 persen pada Juli 2026, menurut data terbaru dari Biro Statistik Nasional (NBS). Angka ini naik 3 poin persentase dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 14,9 persen, sekaligus mengakhiri tren penurunan yang sempat berlangsung tiga bulan berturut-turut.
Lonjakan ini terjadi di tengah membanjirnya 12,7 juta lulusan universitas ke pasar kerja, meningkat 4 persen dibandingkan tahun lalu. Musim kelulusan yang mencetak rekor ini bertepatan dengan perlambatan ekonomi yang membuat banyak perusahaan memilih melakukan penghematan, memangkas karyawan, atau menghentikan rekrutmen.
Pemerintah Beijing pun bergerak cepat. Berbagai kebijakan strategis telah dirilis, mulai dari subsidi rekrutmen bagi perusahaan yang bersedia menampung lulusan baru, hingga desakan agar Badan Usaha Milik Negara (BUMN) membuka lebih banyak lowongan. Kementerian terkait bahkan menginstruksikan pemerintah daerah untuk memprioritaskan lulusan universitas mengisi posisi di tingkat komunitas, serta memberikan insentif bagi lembaga sosial yang aktif merekrut.
Di tengah persaingan yang kian ketat, banyak lulusan mengubah strategi karier. Sebagian memilih mengamankan posisi di sektor publik yang dikenal stabil, sementara lainnya menunda masuk dunia kerja dengan melanjutkan studi pascasarjana demi memperkuat resume.
Clare Wang, lulusan desain produk berusia 22 tahun, memilih melanjutkan kuliah S2 di luar negeri. Ia merasa gelar sarjana tidak lagi cukup untuk bersaing di perusahaan besar yang kini mensyaratkan gelar magister. "Saya kurang percaya diri untuk mendapatkan pekerjaan tingkat awal dengan gaji 6.000 yuan (sekitar Rp 13 juta) per bulan di tengah ketatnya kualifikasi saat ini," ujarnya.
Kesulitan serupa dialami lulusan universitas luar negeri. Vikey Zhao, pemegang gelar master dari University of Warwick, Inggris, menceritakan betapa tingginya standar rekrutmen. Ia harus mengirimkan puluhan lamaran selama enam bulan sebelum akhirnya diterima di sebuah perusahaan BUMN. Banyak rekannya yang bernasib lebih malang, dengan ratusan lamaran hanya membuahkan satu atau dua panggilan wawancara.
"Standar untuk mendapatkan pekerjaan telah meningkat secara signifikan. Bahkan untuk posisi tingkat pemula, hampir semua pesaingnya adalah lulusan master dari universitas-universitas papan atas di dalam negeri," kata Zhao.
Krisis ini tidak hanya menyasar kelompok usia muda. Data NBS mencatat tingkat pengangguran untuk kelompok usia 25-29 tahun juga naik tipis menjadi 7,2 persen pada Juli. Secara keseluruhan, tingkat pengangguran perkotaan di China naik ke angka 5,2 persen, menunjukkan tekanan ekonomi yang meluas di berbagai sektor.
Artikel Terkait
Saham Unitree Robotics Melonjak 600 Persen Usai IPO di Shanghai
Gedung Putih Tuding China Gunakan Jaringan Transshipment untuk Hindari Tarif
Merek Jerman Kehilangan Pamor di Pasar Mobil China
KADI Mulai Selidiki Impor Superabsorbent Polymers dari China