Indramayu Kokoh Sebagai Lumbung Ikan Jawa Barat, Kontribusi Capai 34%

- Rabu, 04 Maret 2026 | 14:00 WIB
Indramayu Kokoh Sebagai Lumbung Ikan Jawa Barat, Kontribusi Capai 34%

Indramayu kembali membuktikan dirinya. Kabupaten pesisir di Jawa Barat ini masih kokoh berdiri sebagai lumbung perikanan utama provinsi. Data sepanjang 2025 berbicara cukup keras: total produksi perikanannya mencapai angka 528.873,80 ton. Angka itu bukan main-main, karena menyumbang hampir 34 persen dari total produksi Jawa Barat yang berada di kisaran 1,55 juta ton.

Kalau mau dibayangkan, hampir satu dari setiap tiga ton ikan yang dihasilkan di Jawa Barat berasal dari sini.

Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Indramayu, Edi Umaedi, tak menyembunyikan kebanggaannya. Menurutnya, capaian ini jelas menunjukkan peran strategis Indramayu sebagai salah satu sentra utama kelautan dan perikanan.

"Jika dilihat dari komposisinya, sektor budidaya menjadi tulang punggung produksi daerah dengan kontribusi sekitar dua pertiga dari total output," kata Edi, Rabu (4/3/2026).

Rinciannya begini. Dari total 528 ribu ton lebih tadi, perikanan tangkap menyumbang 180.620,58 ton. Sementara itu, perikanan budidaya justru lebih besar, yakni 348.253,22 ton. Dominasi Indramayu di sektor tangkap bahkan lebih mencengangkan. Tercatat, 63,01% dari total produksi perikanan tangkap Jawa Barat berasal dari wilayah ini. Garis pantai yang panjang dan aktivitas nelayan yang masif di kawasan Pantura memang menjadikannya kontributor terbesar.

Di sisi lain, pada sektor budidaya, kontribusinya mencapai 26,43% dari total produksi budidaya Jawa Barat. Meski persentasenya lebih kecil dibanding sektor tangkap, volume budidayanya justru lebih besar secara absolut. Ini jadi penanda bahwa ekspansi tambak dan kolam budidaya di Indramayu berkembang pesat belakangan ini.

Edi menilai, capaian ini punya dampak ekonomi yang nyata. Produksi ratusan ribu ton ikan itu menggerakkan roda ekonomi di kawasan pesisir, bukan hanya untuk nelayan dan pembudidaya, tapi juga rantai distribusi, pengolahan, hingga perdagangan.

Ia menekankan, keberhasilan ini buah dari kolaborasi yang solid antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan semua pemangku kepentingan.

"Sinergi pembangunan menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas produksi di tengah dinamika cuaca, harga pakan, hingga fluktuasi permintaan pasar," ujar Edi.

Ke depan, pemerintah daerah berkomitmen terus mendorong peningkatan kapasitas, baik di sektor tangkap maupun budidaya. Caranya lewat penguatan sarana prasarana, pendampingan teknis, dan mengoptimalkan potensi tambak serta perairan laut.

Kontribusi hampir 34% ini juga menempatkan Indramayu pada posisi strategis untuk mendukung ketahanan pangan nasional, khususnya dari sisi protein hewani. Stabilitas produksi daerah jadi kunci menjaga ketersediaan pasokan ikan.

Data 2025 juga memperlihatkan sebuah transformasi. Kalau dulu sektor tangkap jadi penopang utama, kini budidaya mulai dominan secara volume. Pergeseran ini penting untuk keberlanjutan, mengingat sumber daya laut punya batas eksploitasi.

Tantangan ke depan tentu ada. Mulai dari efisiensi biaya produksi, adaptasi terhadap perubahan iklim, hingga meningkatkan daya saing di pasar. Namun, optimisme tetap tinggi.

"Besarnya kontribusi Indramayu terhadap Jawa Barat sekaligus menegaskan sektor perikanan masih menjadi salah satu motor ekonomi utama daerah. Selama produktivitas terjaga dan kolaborasi terus diperkuat, Indramayu diproyeksikan tetap menjadi episentrum produksi ikan di provinsi ini," pungkas Edi.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar