Bulan Ramadan membawa perubahan pada cara Polda Metro Jaya mengamankan aksi unjuk rasa di Jakarta. Pendekatannya jadi berbeda, lebih menekankan pada pendekatan yang humanis dan religius. Personel di lapangan tampil dengan penampilan baru yang lebih santun.
Alih-alih barikade dan perlengkapan yang terkesan keras, polisi laki-laki kini mengenakan peci dan syal. Sementara rekan mereka yang perempuan memakai jilbab. Bahkan, ada tim khusus yang dilibatkan: tim shalawat. Mereka ini yang berada di garda terdepan, bertugas sebagai negosiator.
Menurut sejumlah saksi, tugas tim ini adalah berdialog secara persuasif. Atmosfer yang diciptakan diharapkan lebih tenang dan dialogis antara aparat dengan massa. Ini semua tak lepas dari instruksi Kapolda Metro Jaya, Irjen Asep Edi Suheri. Beliau ingin mengedepankan perlindungan dan penghormatan tinggi terhadap HAM dalam setiap kegiatan.
Di sisi lain, soal prosedur keamanan, pihak kepolisian tetap tak main-main. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, menegaskan standar keselamatan tetap ketat. Hanya saja, caranya yang persuasif. Yang menarik, seluruh personel pengamanan dilarang membawa senjata api atau peluru tajam. Langkah ini diambil untuk menjamin keamanan dan kenyamanan peserta aksi.
Peserta aksi pun diimbau untuk tertib. Aspirasi boleh disampaikan, tapi fasilitas umum harus dijaga. Hak pengguna jalan lain, yang mungkin sedang beribadah, juga perlu dihormati.
"Penyampaian aspirasi adalah hak konstitusi seluruh elemen masyarakat yang dijamin oleh Undang-Undang. Namun, karena saat ini kita berada di bulan suci Ramadhan, kami mengharapkan suasana yang lebih sejuk, damai penuh toleransi. Kami menerjunkan personel dengan atribut religi dan tim shalawat agar komunikasi dengan massa aksi terjalin lebih harmonis dan tetap dalam koridor saling menghormati,"
kata Budi dalam keterangannya, Rabu (4/3/2026).
Budi Hermanto menambahkan satu hal penting. Pendekatan seperti ini rencananya akan terus dipertahankan. Ia ingin ini menjadi standar pelayanan Polda Metro Jaya dalam mengawal demokrasi yang sehat, khususnya di wilayah Ibu Kota dan sekitarnya. Sebuah upaya untuk merawat suasana, tak sekadar mengamankan lokasi.
Artikel Terkait
Prancis Tuding Hezbollah Serang Pasukan PBB di Lebanon, Satu Tentara Tewas
Polda Sumsel Amankan 163 Tersangka dan 7,2 Kg Sabu dalam Pengungkapan Jaringan Narkoba Lintas Wilayah
Gunung Semeru Erupsi, Status Siaga Level III dan Zona Bahaya Dipertegas
Ketua Umum TP PKK Pusat Dukung Minyak Kemiri Belu Jadi Produk Unggulan dan Potensi Ekspor